Posyandu Jiwa Bening, memanusiakan manusia…


IMG-20180610-WA0005

Siang itu di Posyandu Jiwa bening, sesekali tampak suasana riuh rendah, histeris, sesekali hening, hanya suara petugas yang sedang mengajarkan keterampilan melukis sandal. kegiatan  Posyandu Jiwa Bening tampak semarak dan penuh haru, sebagian besar Mereka adalah penyandang disabilitas mental atau orang dengan gangguan jiwa (ODGJ).

Pembukaan Posyandu Jiwa Bening di Desa Tanggal rejo dilakukan tanggal 24 Maret 2018 di Desa Tanggal rejo, oleh Puskesmas Mojoagung dengan melibatkan 3 pilar. Menurut kepala Puskesmas Mojoagung, dr Ma’murotus Sa’diyah M.Kes, Keberadaan posyandu jiwa ini tidak dapat dilepaskan dari peran serta Tiga Pilar termasuk Perangkat Desa dan tidak kalah pentingnya adalah peran seluruh jaringan dan jejaring Puskesmas Mojoagung.

Posyandu Jiwa Bening  merupakan bentuk kerjasama yang baik antara Puskesmas dan masyarakat. setiap posyandu jiwa dilaksanakan, maka tiap desa mengirim ODGJ yang didampingi kader kesehatan jiwa / Kader Pendamping Jiwa dan diantar oleh mobil siaga desa, ini merupakan perwujudan dukungan aparat desa serta masyarakat terhadap masalah kejiwaan dan penderita ODGJ yang ada.

 

PROGRAM KESEHATAN JIWA PUSKESMAS MOJOAGUNG

Kegiatan Program Kesehatan Jiwa di Puskesmas Mojoagung meliputi kegiatan di dalam gedung (upaya kesehatan perorangan/UKP) yaitu pelayanan kesehatan jiwa yang diberikan setiap hari kamis pada jam kerja, dimana terdapat pelayanan konsultasi, pengobatan dan akan ditindaklanjuti dengan kunjungan rumah.

Kegiatan di dalam gedung termasuk melakukan skrining ODMK (orang dengan masalah kejiwaan), yaitu orang yang rentan menderita gangguan kejiwaan karena memiliki masalah baik sosial, ekonomi, budaya dan orang yang memiliki masalah keluarga atau pribadi yang merupakan masalah psikologis, termasuk kekerasan dalam rumah tangga, dan bullying (perundungan) dan lain sebagainya..

Pengobatan dilakukan melalui pedekatan khusus, apakah ODGJ sudah kooperatif, memiliki pengawas minum obat dan keteraturan minum obat dapat dijamin atau tidak. Jika keteraturan minum obat tidak didapatkan maka petugas akan melakukan kunjungan rumah untuk melaksanakan pengobatan sekaligus inspeksi lingkungan baik sosial, ekonomi, higiene sanitasi rumah serta lingkungan dan bertemu dengan keluarga dan masyarakat sekitar untuk memperoleh dukungan penyembuhan.

Selanjutnya penderita ODGJ diharapkan dapat mandiri serta dapat diterima masyarakat tanpa ada lagi stigma yang melekat padanya sebagai “orang gila” atau “wong gendeng”, “wong edan” atau mantan orgil”

saat ini total ODGJ yang ditemukan di wilayah kerja Puskesmas Mojoagung adalah 122 orang per maret dan yang berobat sekitar 60 orang. berbagai langkah dilakukan termasuk sosialisasi, advokasi lintas sector, komunikasi dan koordinasi dengan kepala desa, membenttuk kader kesehatan jiwa, yang kesemuanya diharapkan dapat meningkatkan penemuan dini jumlah ODGJ , meningkatkan ODGJ yang berobat teratur, melepaskan ODGJ yang mengalami pemasungan dan menghilangkan stigma di masyarakat.

Kunjungan rumah dilakukan tim kesehatan jiwa , dokter, petugas pelaksana program jiwa, paramedis dan juga melibatkan lintas sektor.

Saat kunjungan rumah, berbagai kendala biasanya dihadapi petugas, namun dapat selesai dengan adanya pendekatan holistik, komunikasi dua arah yang baik dan melibatkan empati agar terjalin hubungan harmonis antara petugas dan keluarga ODGJ.

Tak jarang Sri Wahyuningsih harus memandikan ODGJ karena berminggu, kadang berbulan bulan sudah tidak mandi.

 

Pelayanan luar gedung sebagai perwujudan dari UKBM (upaya kesehatan berbasis masyarakat) merupakan bagian dari tugas pokok dan fungsi Puskesmas yaitu menyelenggarakan upaya kesehatan masuarakat (UKM) di wilayah kerja.

Posyandu Jiwa Bening sebagai kegiatan luar gedung memiliki kegiatan yang beragam. Petugas Pelaksana Program Jiwa, Sri Wahyuningsih mengatakan Posyandu jiwa memiliki 5 langka yang terdiri atas 5 meja pelayanan,

meja 1            : pendaftaran yang dilakukan oleh kader pendamping jiwa, dan pemeriksaan kesehatan fisik oleh petugas kesehatan

meja 2            : Pemeriksaan status psikiatri dan terapi psikofarmaka

meja 3            : Asuhan keperawatan

meja 4            : Peningkatan perawatan dan keterampilan sehari2, disini PDGJ diajari tentang kebersihan diri dan toileting, bagaimana ODGJ bias melakukan mandi dan buang air secara mandiri

meja 5            : peningkatan keterampilan sehari-hari, dimulai dari hal yang paling sederhana yaitu membersihkan tempat tidur, kamar dan lemari, sampai diajarkan keterampilan untuk meningkatkan produktivitas. Kegiatan terakhir merupakan kegiatan rehabilitasi sosial.

di setiap bulan saat Posyandu Jiwa Bening dilaksanakan, Sri Wahyuni mendatangkan nara sumber pelatihan keterampilan, kali ini membuat dan melukis sandal, bulan depan membuat kerajinan keset dan sebagainya. Hasil ketrampilan ini akan dijual dan dana yang terkumpul akan dikembalikan lagi sebagai dana operasional Posyandu termasuk untuk memberikan paket sembako dan alat kebersihan diri serta biaya mendatangkan pelatih.

kegiatan lain yang dilakukan di Posyandu Jiwa Bening ini adalah senam bersama, menyanyi dan berekspresi.

selain itu ada siraman rohani, dimana sri wahyuningsih mendatangkan ustad/ustadzah untuk memberikan tausiah dan latihan ritual keagamaan, misalnya latihan sholat, berwudlu dan lain sebagainya.

saat Posyandu Jiwa Bening dilaksanakan, Sri Wahyuningsih juga membagikan paket yang berisi sembako, sabun mandi, shampoo juga baju laik pakai yang dikumpulkan melalui donasi di Puskesmas dan Desa-desa.

MOJOAGUNG BEBAS PASUNG

salah satu focus program kesehatan jiwa adalah bebas pasung. Kegiatan pelepasan bebas pasung merupakan kegiatan integrasi tiga pilar yang membutuhkan dukungan warga sekitar. Diharapkan ODGJ yang telah stabil dan kooperatif dapat dilepas pasungnya dengan pengawasan keluarga, masyarakat serta petugas.

Hingga saat ini ada satu ODGJ yang dipasung, dan sudah dilakukan pelepasan pasung melalui koordinasi kepala Puskesmas dan tiga pilar .

 

 

 

 

 

Iklan

PENCANANGAN PENGGALANGAN KOMITMEN


IMG-20180804-WA0010

 

Puskesmas sebagai institusi pemerintah yang memberikan pelayanan kesehatan saat ini dan ke depan dihadapkan pada situasi era global yang penuh tantangan. Salah satu yang harus dimiliki Puskesmas adalah kemampuan untuk survive dengan menerapkan standarisasi manajemen dan sistem mutu. Dalam pelaksanaannya tentu terdapat berbagai hambatan baik yang berasal dari eksternal maupun internal.

Hambatan internal yang terjadi baik dalam hubungan interpersonal maupun lintas program dan lintas unit merupakan persoalan yang harus mendapatkan perhatian dalam proses kepemimpinan untuk menciptakan suasana kerja yang kondusif dalam rangka penerapan manajemen mutu. Hambatan internal perlu diselesaikan dengan pendekatan yang lebih interpersonal. Selain digunakan pendekatan teori, pengalaman dapat menjadi referensi yang baik pula.

Keterbatasan hubungan antar personel kesehatan di lapangan dapat dikurangi melalui penggalangan komitmen bersama dalam kerangka sebagai individu maupun sebagai tim dalam suatu organisasi. Upaya ini memerlukan peningkatan kemampuan dari dua kutub, yaitu dari pemimpin dan dari bawahan. Untuk itu penggalangan komitmen bersama dalam rangka menyamakan persepsi terhadap suatu sistem yang akan diterapkan sangat penting.

  1. Tujuan umum

Terbentuknya Tim yang Solid

  1. Tujuan khusus
    1. Menyamakan persepsi bersama untuk mewujudkan visi, isi, tata nilai dan motto Puskesmas Mojoagung
    2. Mencegah terjadinya konflik internal
    3. Meningkatkan koordinasi dan kerjasama antar unit dan lintas program
    4. Meningkatkan upaya pencapaian kinerja

Cara melaksanakan kegiatan penggalangan komitmen ini dengan melalui internalisasi nilai pada setiap kesempatan, DAN membangun kebersamaan diantara seluruh pegawai agar visi misi, tata nilai dan motto Puskesmas Mojoagung tercapai.

Kegiatan pencanangan penggalangan komitmen dilaksanakan di Puskesmas Mojoagung pada Tahun 2018 bersama dengan seluruh keluarga besar karyawan Puskesmas Mojoagung

 

 

BRAVO Puskesmas Mojoagung…

Razia makmin Tim Gabungan POLSEK-Puskesmas Mojoagung


IMG-20180531-WA0018

Dalam rangka persiapan Hari Raya Idul Fitri maka  jajaran Polsek Mojoagung mengdakana razia makanan dan minuman di wilayah hukum Polsek Mojoagung. Razia dilaksanakan jajaran Polsek Mojoagung bersama jajaran Puskesmas Mojoagung. Razia kali ini dipimpin langsung oleh Bp. Khoiruddin SH, Kepala Kepolisian Sektor Mojoagung. Hadir jajaran Puskesmas Mojoagung, Pelaksana Program Promosi Kesehatan, Sri Wahyuningsih, Pelaksana Kesehatan limgkungan, M. Usman SST dan pelaksana Program Gizi Puskesmas.

Razia dilakukan di area pasar Mojoagung, pada hari kamis, 31 mei 2018.

Razia yang dilakukan tim gabungan ini menyasar sejumlah toko yang menjajakan bahan makanan pokok seperti beras, gula pasir, telur, serta kebutuhan lainnya yang sehari-hari dikonsumsi masyarakat.

Tim juga memeriksa sejumlah label makanan dan minuman untuk mengetahui apakah produk yang dijual masih layak konsumsi atau telah kedaluarsa.

 

Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR) dan Posyandu Remaja di Puskesmas Mojoagung


IMG-20180508-WA0028

Masa remaja merupakan masa storm and stress, karena remaja mengalami banyak tantangan baik dari diri mereka sendiri (biopsychosocial factors) ataupun lingkungan (environmental factors). Remaja menurut Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 25 Tahun 2014 adalah kelompok usia 10 tahun sampai berusia 18 tahun

Apabila remaja tidak memiliki kemampuan untuk menghadapi berbagai tantangan tersebut, mereka dapat berakhir pada berbagai masalah kesehatan yang begitu kompleks sebagai akibat dari perilaku berisiko yang mereka lakukan.

Survei Kesehatan Berbasis Sekolah di Indonesia tahun 2015 (GSHS) dapat terlihat gambaran faktor risiko kesehatan pada pelajar usia 12-18 tahun (SMP dan SMA) secara nasional.

Sebanyak 41,8% laki-laki dan 4,1% perempuan mengaku pernah merokok,

32,82% di antara merokok pertama kali pada umur ≤ 13 tahun.

Data yang sama juga menunjukkan 14,4% laki-laki dan 5,6% perempuan pernah mengkonsumsi alkohol, lalu juga didapatkan 2,6% laki-laki pernah mengkonsumsi narkoba.

Gambaran faktor risiko kesehatan lainnya adalah perilaku seksual di mana didapatkan 8,26% pelajar laki-laki dan 4,17% pelajar perempuan usia 12-18 tahun pernah melakukan hubungan seksual.

Perilaku seks pranikah tentunya memberikan dampak yang luas pada remaja terutama berkaitan dengan penularan penyakit menular dan kehamilan tidak diinginkan serta aborsi.

Masalah kesehatan pada remaja terutama disebabkan karena kecenderungan untuk perilaku yang berisiko. Kompleksnya permasalahan kesehatan pada remaja, tentunya memerlukan penanganan yang komprehensif  dan terintegrasi yang melibatkan semua unsur dari lintas program dan sektor terkait. Untuk itu Kementarian Kesehatan telah mengembangkan Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR) di Puskesmas, dengan paket pelayanan komprehensif untuk kesehatan remaja meliputi KIE, konseling, pembinaan konselor sebaya, layanan klinis/medis dan rujukan termasuk pemberdayaan remaja dalam bentuk keterlibatan aktif dalam kegiatan kesehatan.

Pelayanan Kesehatan peduli Remaja sekaligus pelayanan kesehatan reproduksi remaja dilaksanakan di Puskesmas Mojoagung setiap hari Jumat pada jam kerja.

 

Sebagai bentuk upaya memberdayakan masyarakat maka dibentuk juga Posyandu Remaja sehingga ada keterlibatan masyarakat secara mandiri dalam upaya promotif serta preventif.

Posyandu remaja diharapkan menjadi sebuah wadah masyarakat yang memfasilitasi remaja dalam memahami permasalahan kesehatan mereka, memperluas jangkauan Puskesmas PKPR dalam memberikan pelayanan promotif dan preventif kepada remaja, terutama bagi remaja di daerah yang memiliki keterbatasan akses maupun hambatan geografis seperti daerah terpencil, daerah kepulauan atau terisolasi/terasing lainnya.

 

Wilayah kerja Puskesmas Mojoagung tidak memiliki hambatan geografis, namun bahaya yang mengintai remaja adalah sebuah alasan penting terbentuknya Posyandu Remaja ini. PR diharapkan dapat  menjadi wadah remaja dalam berdiskusi tentang masalah yang tengah mereka hadapi termasuk derasnya pengaruh pergaulan bebas, narkoba, minuman keras, penyakit infeksi menular dan HIV AIDS yang sudah mengancam remaja saat ini.

Pelayanan kesehatan remaja di Posyandu mencakup upaya promotif dan preventif, meliputi: Keterampilan Hidup Sehat (PKHS), kesehatan reproduksi remaja, kesehatan jiwa dan pencegahan serta penyalahgunaan Napza, gizi, aktifitas fisik, pencegahan Penyakit Tidak Menular (PTM) dan pencegahan kekerasan pada remaja.

 

Menurut pelaksana tugas Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR) Puskesmas Mojoagung, Wenny Cesaria, antusiasme remaja Mojoagung merupakan modal kuat berkembangnya UKBM ini, yang diharapkan dapat memupuk kemandirian dan kesadaran remaja tentang masalah eksehatan.

Pembentukan Posyandu remaja merupakan bagian dari koordinasi program KRR, Promkes, UKS dan KIA serta didukung lintas program dan lintas sector terkait termasuk Dinas Pengendalian Penduduk dan KB (DPPKB)  Kabupaten Jombang.

sasaran Posyandu Remaja adalah Remaja usia 10-18 tahun, laki-laki dan perempuan dengan tidak memandang status pendidikan dan perkawinan termasuk remaja dengan disabilitas.

Dalam Posyandu Remaja, diadakan kegiatan penyuluhan, diskusi, sharing sesama dan menonton film edukasi dan kegiatan lain sesuai dengan masukan anggota.

Puskesmas Mojoagung, Puskesmas Ramah Anak


2018-05-07_14.14.37

Sebagai pusat pelayanan kesehatan, Puskesmas senantiasa berbenah dan mencari peluang inovasi yang bermanfaat dan memiliki daya ungkit bagi peningkatan kualitas pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Salah satu pelayanan di Puskesmas adalah pelayanan kesehatan ibu dan anak. Untuk meningkatkan kualitas pelayanan terhadap anak, sejalan dengan upaya memenuhi hak dasar anak, mulai dari hak hidup, tumbuh kembang, perlindungan dan partisipasi.  Maka semua pelayanan publik yang berkaitan dengan anak diharapkan memberikan pelayanan yang ramah anak, sehingga anak-anak yang menerima pelayanan tersebut merasa aman, nyaman dan gembira.

Pada tahun 2017, Kabupaten Jombang mendapatkan penghargaan sebagai Kabupaten Layak Anak (KLA) Tingkat Madya. Penganugerahan KLA Tingkat Madya kepada Kabupaten Jombang untuk tahun 2017 ini bukan yang pertama, tapi sudah kali keempat kalinya secara berturut turut. Puskesmas memiliki peran penting dalam pemenuhan hak anak atas kesehatan sehingga penyelenggaraan puskesmas ramah anak yang merupakan salah satu indikator kabupaten/kota layak anak (KLA) harus di lakukan secara proaktif termasuk di Kabupaten Jombang

Puskesmas Mojoagung sebagai PRA dalam me­n­jalankan fungsinya ber­da­sar­kan pemenuhan, per­lin­dungan dan penghargaan atas hak-hak, berdasarkan empat prinsip perlindungan anak yaitu non diskriminasi, kepentingan terbaik bagi anak, hak untuk hidup, ke­lang­sungan hidup dan per­kem­bangan serta peng­harg­a­an terhadap pendapat an­ak. Oleh karenanya Puskesmas Mojoagung diharapkan dapat melakukan inisiasi sebagai Puskesmas Ramah Anak dengan mengupayakan fasilitas pelayanan kesehatan anak melalui beberapa pelayanan diantaranya ruang rawat inap khusus anak, Therapeutic Feeding Center (TFC) dan Taman Pemulihan Gizi (TPG) yang sudah ada di semua desa di wilayah kerja Puskesmas Mojoagung. Pengembangan pemenuhan pelayanan kesehatan yang ramah anak dilakukan secara terus menerus dengan melibatkan kepedulian staf Puskesmas Mojoagung, diawali dengan membangun komitmen staf Puskesmas Mojoagung, renovasi ruang pelayanan untuk memisahkan anak sakit dan anak sehat yang termuat dalam Rencana Usulan Kegiatan (RUK), pembuatan pojok bermain anak secara swadaya, koleksi mainan anak yang berasal dari swadaya, dimana staf ikut berpartisipasi dengan membawa mainan, stiker dan buku buku anak, juga renovasi secara bertahap ruang layanan Manajemen Terpadu Balita Sakit / MTBS dan ruang rawat inap anak sesuai dengan kebutuhan anak. Dan yang tak kalah penting adalah ruang ASI, pojok baca anak, taman dengan air mancur di tengah-tengah ruang rawat inap anak. Ke depan, diharapkan ruang pelayanan dapat memenuhi kebutuhan anak untuk tumbuh dan bekembang sehingga anak-anak yang menerima pelayanan tersebut merasa aman, nyaman dan gembira.

Pelayanan dan kebijakan yang terkait Puskesmas Ramah Anak di Puskesmas Mojoagung adalah sebagai berikut:

  1. Membangun komitmen bersama staf Puskesmas Mojoagung untuk memahami hak kesehatan anak dan bertekad mewujudkan Puskesmas Mojoagung sebagai Puskesmas Ramah Anak;
  2. Adanya pemisahan ruang pemeriksaan dan konsultasi bagi anak yang sehat dan sakit, agar tidak terjadi penularan. Anak sehat yang datang untuk imunisasi atau konseling diharapkan dapat tetap sehat, sedangkan anak yang sakit diharapkan penyakitnya dapat teratasi tanpa menimbulkan penularan kepada anak-anak yang lain;
  3. Pelaksanaan Permenkes Nomor 21 Tahun 2013 tentang Program Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke Anak (PPIA) melalui pelayanan Ante Natal Care / ANC Terpadu di ruang Kesehatan Ibu dan Anak;
  4. Penetapan Puskesmas Mojoagung sebagai Puskesmas Yang Menginisiasi Pelayanan Ramah Anak (PRAP) di Kabupaten Jombang melalui SK Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Jombang Nomor 188/4073/415.17/2018 pada tanggal 2 Mei 2018.
  5. Adanya ruang rawat inap anak yang terpisah dari dewasa;
  6. Adanya Ruang ASI
  7. Adanya pelayanan anak dengan gizi buruk atau anak sakit yang memiliki berat badan kurang (Therapeutic Feeding Centre);
  8. Adanya Taman Pemulihan Gizi (TPG) sebagai ujung tombak upaya promotf preventif agar balita dengan gizi kurang dapat segera diatasi dan terhindar dari gizi buruk dengan melibatkan keluarga dan stake holder terkait;
  9. Adanya pojok bermain di ruang tunggu yang nyaman bagi anak;
  10. Adanya pojok baca untuk membudayakan baca pada anak;
  11. Adanya ruang pelayanan MTBS;
  12. Pelayanan Imunisasi
  13. Mewujudkan kawasan tanpa rokok
  14. Pelayanan Kesehatan Reproduksi Remaja
  15. Taman yang asri dan aman

 

 

Mari bersama mewujudkan anak-anak Indonesia sehat dan ceria…

 

Pertemuan jejaring dalam rangka Public Private Mixed – TB ( PPM TB)


TBC / Tuberkulosis/ TB masih dan akan terus menjadi masalah penyakit menular yang memerlukan perhatian serius di Tanah air tercinta.

Kasus TBC yang ditemukan di Indonesia hanya 33% dari estimasi 1 juta kasus, diperkirakan missing cases  sebesar 67% (670 ribu kasus) sehingga diperlukan Akselerasi Penemuan missing cases

Jejaring layanan (PPM) TB dimulai sejak tahun 2006, namun sampai dengan 2016 baru 30% RS swasta, 1% klinik swasta, dan 1% dokter praktik swasta yang melapor. Data dari Layanan swasta

  • didatangi 74% untuk diagnosis awal dan 51% pengobatan, TAPI hanya berkontribusi 9% kasus yg terlapor
  • under reporting, wajib lapor kasus TB (mandatory notification) belum berjalan
  • Keberhasilan pengobatan masih rendah, pengobatan sering tertunda, potensial terjadi TB RO
  • Belum semua dokter mendapat pelatihan TB tersertifikasi (10% dari 547), dan belum mengikuti standar pengobatan TB
  • Apotek merupakan salah satu tempat utama masyarakat dengan gejala awal mencari pengobatan

Sementara ini kasus TB Resistensi obat semakin lama semakin banyak yang ditemukan. Fakta bahwa Indonesia berada di ranking ke-8 dari  27 negara dengan beban TB MDR yang tinggi dan pada 2007 diperkirakan terdapat  12.209 kasus TB MDR dan Estimasi insidens MDR TB: 6395 pertahun.

Faktor2 risiko timbulnya TB-MDR di Indonesia, diantaranya:

  • Therapeutic ‘’chaos’’ : pemberian obat TB yang tidak adekuat  baik menyangkut dosis dan  regimennya
  • Banyak pasien TB yang berobat di sektor swasta, tidak mengikuti strategi DOTS
  • Beaya yang tinggi untuk pasien TB yang mencari pengobatan
  • Penggunaan obat lini ke-2 ( misal: kuinolon, kanamisin) untuk pengobatan TB yang  tidak terkontrol di sektor swasta 
  • Pengobatan TB di Rumah sakit sering diikuti drop-out yang tinggi : angka konversi dan kesembuhan rendah
  • Manajemen logistik obat yang jelek di tingkat di unit pelayanankesehatan (UPK) maupun di tingkat Dinas Kesehatan
  • Selama ini, kasus-kasus TB -MDR di Indonesia tidak mendapatkan pengobatan yang standar sesuai rekomendasi WHO, sebagai akibatnya…
  • Mortalitas kasus TB (MDR) kian meningkat
  • Proses transmisi TB (MDR) terus berlangsung

Dengan kondisi demikian maka perlu langkah pendekatan untuk akselerasi, diantaranya dengan:

  1. Meningkatkan akses layanan TB:
  • Penemuan aktif Kasus TB oleh Puskesmas dengan pendekatan PIS-PK termasuk di daerah kumuh, miskin dan
  • Penemuan pasif dan intensif (kolaborasi layanan : KIA, HIV, PTM) di Rumah Sakit Pemerintah serta Swasta termasuk Dokter Praktek Mandiri.
  • Penemuan terduga TB oleh Kader Poslansia, Posyandu, Posbindu dengan pendekatan PIS-PK.
  • Penemuan terduga TB di lokasi khusus : Rutan-Lapas, Tempat Kerja, Asrama TNI-Polri, Asrama Sekolah, Pondok Pesantren.
  • Skrinning TB pada calon tenaga kerja dan calon Jemaah haji.
  • Skrining TB dengan menggunakan klinik berjalan (mobile clinic)
  1. Penguatan jejaring layanan TB berbasis kabupaten/kota
  2. Meningkatkan mutu layanan TB:
  • Melalui akreditasi Puskesmas dan RS.
  • Meningkatkan kapasitas petugas puskemas (melalui pendekatan PIS-PK), RS (pemerintah dan swasta) dan dokter praktek mandiri.
  1. Penguatan sistem surveilans TB:
  2. Implementasi sistem wajib lapor pasien TB pada puskesmas, RS (pemerintah dan swasta) dan dokter praktek mandiri;
  3. Penyediaan alat diagnosis: Penyediaan alat tes cepat molekular dan reagen yang akan ditempatkan di Puskesmas

PPM TB Merupakan Jejaring layanan kesehatan dalam satu kab/kota yang melibatkan peran organisasi profesi dan kemasyarakatan, dibawah kepemimpinan (leadership)/koordinasi Dinas Kesehatan kabupaten/kota.

Menurut dr. Ma’murotus Sa’diyah M.Kes, kepala Puskesmas Mojoagung, pembentukan PPM TB merupakan keniscayaan di tengah problem akibat penyakit TB yang cukup berat, termasuk Beban masalah TB (jumlah kasus, fasilitas layanan, resistensi, komorbid, penyakit lain yang terkait erat: Diabetes Mellitus, HIV AIDS) juga kemiskinan, tingkat pemahaman masyarakat yang kurang, serta perlunya peningkatan komitmen bersama.

TB juga merupakan salah satu indikator program penting dalam integrasi Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga yang menjadi Fokus Bidang Kesehatan Pemerintah saat ini.

Untuk itulah dilakukan rangkaian PPM TB, yang dimulai dari pendataan jejaring/jaringan TB, dilanjutkan dengan pertemuan PPM TB yang dilaksanakan pada Hari Kamis Tanggal 26 April 2018, pembentukan anggota Jejaring PPM TB wilayah kerja Puskesmas Mojoagung sekaligus membuat Komitmen bersama yaitu :

 

  1. Membantu upaya penanggulangan TB secara promotif maupun preventif.
  2. Menggunakan strategi DOTS dalam penatalaksanaan TB sesuai dengan kemampuan sumberdaya yang ada.
  3. Melaporkan setiap kasus TB yang ditangani ke Puskesmas sesuai wilayah kerja.

Pertemuan ini dihadiri oleh pihak swasta, dokter praktek swasta, klinik dan apotek.

Dari Unsur Puskesmas dihadiri oleh kepala Puskesmas Mojoagung dr Ma’murotus Sa’diyah M.Kes., Umaysaroh SST, selaku Penanggungjawab Jejaring dan Jaringan, Samsul Maarif AMD.Kep. selaku pelaksana program TB dan dr diani arisandi selaku dokter fungsional.

Pilihan jejaring PPM TB dapat merujuk pada table berikut ini

PILIHAN PENEMUAN SUSPEK DIAGNOSIS PENGOBATAN KONSULTASI KLINIS
1 Ѵ
2 Ѵ Ѵ
3 Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ
4 Ѵ Ѵ
5 Ѵ Ѵ Ѵ

 

Bersama Kita Bisa !!

KAMPUNG SIAGA BENCANA dan TAGANA DI KADEMANGAN


IMG-20180909-WA0004(1)

 

Kampung Siaga Bencana /KSB merupakan wadah penanggulangan bencana berbasis masyarakat yang dijadikan kawasan atau tempat untuk program penanggulangan bencana.

tujuan KSB adalah untuk memberikan pemahaman dan kesadaran masyarakat tentang bahaya dan risiko bencana, membentuk jejaring siaga bencana berbasis masyarakat dan memperkuat interaksi sosial anggota masyarakat, mengorganisasikan masyarakat terlatih untuk siaga bencana, serta mengoptimalkan potensi dan sumber daya yang ada untuk penanggulangan bencana.

TAGANA, adalah suatu organisasi sosial yang bergerak dalam bidang penanggulangan bencana alam dan bencana sosial yang berbasiskan masyarakat. Pembentukan TAGANA merupakan suatu upaya untuk memberdayakan dan mendayagunakan generasi muda dalam berbagai aspek penanggulangan bencana, khususnya yang berbasis masyarakat.

Di wilayah kerja Puskesmas Mojoagung, khususnya Desa Kademangan, telah dilakukan pencanangan TAGANA dan Kampung Siaga Bencana, Hal ini tak lain adalah karena Kademangan merupakan wilayah yang hampir setiap tahun mengalami bencana banjir. Diapit tiga sungai besar membuat Desa Kademangan, Mojoagung, Jombang menjadi langganan banjir sejak tahun 1964 silam. Berbagai masalah sosial, psikologis, ekonomi dan kesehatan dapat timbul karena bencana ini.

Banjir yang kerap menerjang Desa Kademangan, akibat meluapnya Sungai Catak Banteng dan Pancir Gunting. Kedua sungai ini berhulu di wilayah Wonosalam dan Kandangan, Kediri.

Akibat seringnya dilanda banjir, membuat warga Kebondalem belajar dari pengalaman. Masing-masing rumah warga dilengkapi rak dari kayu yang dipasang di tembok pada ketinggian di atas 1,5 meter sehingga sebelum banjir datang, warga lebih dulu mengevakuasi perabotan rumah dan benda berharga lainnya ke tempat yang lebih tinggi.

 

Seiring berjalannya waktu dan koordinasi yang semakin baik, pembentukan kampung siaga bencana dan adanya TAGANA membantu masyarakat khususnya desa kademangan untuk dapat mengantisipasi serta menanggulangi banjir serta dampaknya.

Bencana Banjir tahunan ini juga mendapat perhatian dari Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Timur dengan melakukan supervisi dan pemantauan, serta pemberian makanan tambahan (PMT) bagi Balita terdampak bencana.

Pencanangan Kampung siaga bencana dan TAGANA diisi dengan simulasi bencana banjir. Tanpak koordinasi yang baik dari segala unsur. Puskesmas Mojoagung berperan dalam ikut serta penanggulangan korban banjir dan paska banjir dengan melakukan inspeksi hygiene sanitasi rumah dan lingkungan warga terdampak banjir.

Bidan Desa Kademangan, Rosdian, merupakan anggota TAGANA kademangan yang telah mendapatkan pelatihan, demikian diharapkan terjadi koordinasi yang baik antara, masyarakat, Puseksmas Mojoagung, Dinas Sosial, Badan Nasional Penanggulangan Bencana  serta aparat desa yang tergabung dalam keanggotaan KAmpung Siaga Bencana untuk dapat bersama-sama menanggulangi bencana banjir dan antisipasi serta dampak yang akan terjadi.

normalisasi sungai dan peninggian bendungan diharapkan dapat menjadi pilihan solusi termasuk advokasi dan pelarangan penebangan hutan serta membuang sampah sembarangan, yang merupakan upaya promotif preventif terhadap bahaya bencana banjir.