Mengontrol si manis Diabetes


Transfer-Factor-Untuk-Diabetes

Pentingnya tau tentang Diabetes Melitus

Anda mengenal Diabetes Melitus (DM) ? Bahwa 350 juta orang di seluruh dunia mengidap penyakit diabetes dan Pada tahun 2013, Indonesia memiliki sekitar 8,5 juta penderita Diabetes yang merupakan jumlah ke-empat terbanyak di Asia dan nomor-7 di dunia. Dan pada tahun 2020, diperkirakan Indonesia akan memiliki 12 Juta penderita diabetes, karena yang mulai terkena diabetes semakin muda. Namun DM merupakan penyakit yang dapat dicegah, untuk mencegahnya mari kita mengenalinya lebih jauh.
Diabetes melitus, DM (bahasa Yunani: διαβαίνειν, diabaínein, tembus atau pancuran air) (bahasa Latin: mellitus, rasa manis) yang juga dikenal di Indonesia dengan istilah penyakit kencing manis adalah kelainan metabolik yang disebabkan oleh banyak faktor seperti kurangnya insulin atau ketidakmampuan tubuh untuk memanfaatkan insulin (Insulin resistance), dengan simtoma berupa hiperglikemia kronis dan gangguan metabolisme karbohidrat, lemak dan protein, sebagai akibat dari:
• defisiensi sekresi hormon insulin, aktivitas insulin, atau keduanya.[2]
• defisiensi transporter glukosa.
• atau keduanya.
Glukosa adalah karbo hidrat alamiah yang digunakan tubuh sebagai sumber energi. Yang banyak dijual adalah sukrosa dan ini sangat berbeda dengan glukosa. Konsentrasi tinggi dari glukosa dapat ditemukan pada minuman ringan (soft drink) dan buah-buah tertentu. Kadar gula darah hanya menyiratkan kadar glukosa darah dan tidak menyatakan kadar fruktosa, sukrosa, maltosa dan laktosa (banyak pada susu).
Diabetes Melitus (DM) dibagi menjadi beberapa tipe. DM tipe I biasanya menimbulkan gejala sebelum usia pasien 30 tahun dan penderita memerlukan insulin dari luar tubuhnya untuk kelangsungan hidupnya. DM tipe II biasanya dialami saat pasien berusia 30 tahun atau lebih, dan pasien tidak tergantung terhadap insulin dari luar tubuh, kecuali dalam keadaan tertentu. Tipe DM lainnya adalah DM gestasional, yaitu DM yang terjadi pada ibu hamil akibat gangguan toleransi glukosa.

Faktor risiko diabetes:
• Kelompok usia 45 tahun ke atas
• Obesitas
• Riwayat keluarga DM, ayah atau ibu atau saudara kandung ada yang terkena penyakit diabetes.
• Riwayat kehamilan dengan BB lahir bayi > 4000 gram.
• Riwayat DM pada kehamilan.
• Kurang aktivitas fisik
• Dislipidemia (HDL 250 mg/dl.
• Pernah TGT (Toleransi Glukosa Terganggu) atau GDPT (glukosa darah puasa terganggu).

Gejala-tanda
Tanda-tanda klasik dari diabetes yang tidak diobati adalah turunnya berat badan, polyuria (sering berkemih), polydipsia (sering haus), dan polyphagia (sering lapar). Gejala-gejalanya dapat berkembang sangat cepat (beberapa minggu atau bulan saja) pada diabetes type 1, sementara pada diabetes type 2 biasanya berkembang jauh lebih lambat dan mungkin tanpa gejala sama sekali atau tidak jelas.
Diagnosis ditegakkan dengan pemeriksaan kadar gula darah, yakni gula darah setelah puasa 8 jam atau gula darah sewaktu.
Saat ini jumlah pasien DM tipe II semakin meningkat, dikarenakan pola hidup yang semakin tidak sehat, misalnya kurang aktivitas fisik serta pola makan yang tidak sehat.
Hal penting yang harus diperhatikan pasien DM adalah mengontrol kadar gula darahnya. Kadar gula darah yang tidak terkontrol (selalu tinggi, atau kadang tinggi kadang rendah, atau terlalu rendah) dapat menimbulkan komplikasi pada pasien DM.

Komplikasi akut
Keadaan yang termasuk dalam komplikasi akut DM adalah ketoasidosis diabetik (KAD) dan Status Hiperglikemi Hiperosmolar (SHH). Pada dua keadaan ini kadar glukosa darah sangat tinggi (pada KAD 300-600 mg/dL, pada SHH 600-1200 mg/dL), dan pasien biasanya tidak sadarkan diri. Karena angka kematiannya tinggi, pasien harus segera dibawa ke rumah sakit untuk penanganan yang memadai.
Keadaan hipoglikemia juga termasuk dalam komplikasi akut DM, di mana terjadi penurunan kadar glukosa darah sampai < 70 mg/dL.
Gejala hipoglikemia antara lain:
• perasaan lemah dan kelelahan
• bingung
• lapar
• gemetar
• berkeringat dingin
• nyeri kepala
• pingsan atau kejang (dalam kasus yang berat)
Jika tidak diterapi segera, pasien dapat kehilangan kesadaran, meracau dan kejang-kejang. Pasien DM yang tidak sadarkan diri harus dipikirkan mengalami keadaan hipoglikemia. Hal-hal yang dapat menyebabkan terjadinya hipoglikemia misalnya pasien meminum obat terlalu banyak, menyuntik insulin terlalu banyak, atau pasien tidak makan setelah minum obat atau menyuntik insulin.
Penanganan pada pasien hipoglikemi yang sadar adalah memberikan minuman manis yang mengandung glukosa. Jika keadaan pasien tidak membaik atau pasien tidak sadarkan diri harus segera dibawa ke rumah sakit untuk penanganan dan pemantauan selanjutnya.

Komplikasi kronik
Penyakit diabetes melitus yang tidak terkontrol dalam waktu lama akan menyebabkan kerusakan pada pembuluh darah dan saraf. Pembuluh darah yang dapat mengalami kerusakan dibagi menjadi dua jenis, yakni pembuluh darah besar dan kecil.
Yang termasuk dalam pembuluh darah besar antara lain pembuluh darah jantung, pembuluh darah tepi, pembuluh darah otak.
Kerusakan pembuluh darah kecil (mikroangiopati) misalnya mengenai pembuluh darah retina dan dapat menyebabkan kebutaan. Selain itu, dapat terjadi kerusakan pada pembuluh darah ginjal yang akan menyebabkan nefropati diabetikum. Juga pembuluh darah di
Saraf yang paling sering rusak adalah saraf perifer, yang menyebabkan perasaan kebas atau baal pada ujung-ujung jari. Karena rasa kebas, terutama pada kakinya, maka pasien DM sering kali tidak menyadari adanya luka pada kaki, sehingga meningkatkan risiko menjadi luka yang lebih dalam (ulkus kaki) dan perlunya melakukan tindakan amputasi. Selain kebas, pasien mungkin juga mengalami kaki terasa terbakar dan bergetar sendiri, lebih terasa sakit di malam hari serta kelemahan pada tangan dan kaki. Pada pasien yang mengalami kerusakan saraf perifer, maka harus diajarkan mengenai perawatan kaki yang memadai sehingga mengurangi risiko luka dan amputasi
Secara ringkas komplikasi yang umum terjadi adalah:
• Pembuluh darah tepi, terutama pada tungkai, yang jika rusak akan menyebabkan luka iskemik – gangrene pada kaki
• Pembuluh darah otak, yang jika rusak akan dapat menyebabkan stroke
• gangguan pada mata yang berakibat kebutaan,
• gangguan pada ginjal hingga berakibat gagal ginjal
• gangguan jantung dan kardiovaskular, yang dapat menyebabkan penyakit jantung koroner dan serangan jantung mendadak
• gangguan pada sistem saraf hingga disfungsi saraf autonom, foot ulcer, amputasi, charcot joint dan disfungsi seksual,
• dan gejala lain seperti dehidrasi, ketoasidosis, ketonuria dan hiperosmolar non-ketotik yang dapat berakibat pada stupor dan koma.
• rentan terhadap infeksi.

Tata Laksana
Pada pasien DM tipe 2 prinsip yang terpenting adalah menurunkan kadar glukosa darah menjadi normal atau mendekati normal agar tidak terjadi komplikasi dengan langkah sebagai berikut:
1. Pola makan sehat dengan diet seimbang, bernutrisi, rendah lemak, rendah kolesterol dan meminimalkan penggunaan gula
2. Penurunan berat badan dan olah raga, Berhenti merokok dan hindari sebagai perokok pasif
3. Pasien DM dianjurkan berkonsultasi secara rutin ke dokter untuk mengontrol hasil pengobatan. Jika dalam 2-4 minggu kadar glukosa darah tetap tidak mencapai target, maka harus diberikan satu macam obat hipoglikemik oral (OHO) untuk membantu menurunkan kadar glukosa darah. Regulasi kadar glukosa darah harus terus dipantau, jika kadar glukosa darah tetap belum mencapai sasaran, maka dapat ditambahkan satu macam OHO lagi atau ditambahkan suntikan insulin.

Pencegahan
Saat ini jumlah pasien DM tipe II semakin meningkat, dikarenakan pola hidup yang semakin tidak sehat, misalnya kurang aktivitas fisik serta pola makan yang tidak sehat. Bagaimanapun, mencegah jauh lebih baik daripada mengobati. Menjaga pola hidup sehat untuk mencegah Diabetes Melitus dapat dilakukan melalui:
1. Rutin berolah raga, hal ini sangat penting karena olahraga dapat meningkatkan sensitivitas tubuh terhadap insulin, sehingga membantu mengontrol peningkatan kadar glukosa darah. Olah raga yang bersifat aerobik seperti jalan kaki, bersepeda santai, jogging, dan berenang dianjurkan dilakukan secara teratur selama 30 menit, 3-4 kali seminggu. Selain itu aktivitas sehari-hari dapat tetap dilakukan seperti berkebun, membersihkan rumah, berjalan ke pasar dan naik turun tangga. Yang harus diperhatikan adalah pada pasien DM tipe 2 yang sudah memiliki komplikasi pada mata atau kaki harus dilakukan penyesuaian pada aktivitas fisiknya sesuai saran dokter
2. Mengatur pola makan, dengan makan seimbang, perbanyak buah dan sayur dan kurangi karbohidrat serta lemak
3. Cukup istirahat dan Kelola stress, dengan menjaga keseimbangan emosi, mengatur pola pikir, menyalurkan hobi yang sehat dan pilihan hidup untuk selalu bahagia
4. Tidak merokok (aktif maupun pasif)

Manisnya berolahraga, manisnya berpola makan sehat, manisnya hidup bahagia… jauhkan dari manisnya diabetes melitus..

Info Pelayanan

Kegiatan Prolanis (Program Penanggulangan Penyakit Kronis) Puskesmas Mojoagung merupakan kegiatan promotif-preventif sebagai langkah edukasi dan penatalaksanaan dini, komprehensif dan berkelanjutan dalam mencegah penyakit kronis (hipertensi dan diabetes). bertujuan agar penyakit tidak progresif dan tidak berlanjut lebih fatal dan juga mencegah terjadinya komplikasi.

Berisi kegiatan senam bersama, konseling dokter, penyuluhan, sharing sesama penderita dalam sebuah grup diskusi. selain itu juga dilaksanakan pemeriksaan fisik (berat badan, lingkar perut, tensi darah, kesehatan mata, dan lain sebagainya) serta pemeriksaan Laboratorium (gula darah, kolesterol, asam urat dan lain-lain).

Prolanis dilaksanakan di Puskesmas Mojoagung setiap hari Kamis pada minggu terakhir setiap bulan.

Mari bergabung bersama Prolanis Puskesmas Mojoagung..

Iklan

Satu tanggapan untuk “Mengontrol si manis Diabetes

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s