Pembinaan PONED di Puskesmas Mojoagung oleh Tim PONEK RSUD Jombang


mch_blog_imagePada Hari Kamis 26 Maret 2015 Tim PONEK (Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Komprehensif) RSUD Jombang melakukan pembinaan terhadap pelaksanaan PONED (Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Dasar) di Puskesmas Mojoagung. Hadir dalam acara tersebut Dr. Henny Hendarjono SpOG.K., Dr. Rahmat SpA. Selaku konsultan dan narasumber, beserta tim dari RSUD Jombang dan tim Dinas Kesehatan Kabupaten Jombang Bidang Kesehatan Keluarga (Kesga) selaku penyelenggara. Undangan yang dihadirkan meliputi dokter, bidan desa, bidan PONED dan bidan yang melakukan praktek mandiri di wilayah kerja Puskesmas Mojoagung.
Tujuan kegiatan Pembinaan ini adalah menurunkan angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB) melalui peningkatan kapasitas dan kompetensi petugas. Acara dipandu oleh Ibu Mutoliatul Afida kemudian dibuka oleh dr. Ma’murotus Sa’diyah MKes., selaku Kepala Puskesmas Mojoagung, dilanjutkan paparan pelaksanaan PONED di Puskesmas Mojoagung oleh dr. Agustina Mufida selaku dokter penanggung jawab PONED, paparan analisa situasi program kesehatan ibu dan anak (KIA) oleh Ibu Silva Fatria selaku Bidan Koordinator, serta review kasus Obstetri dan Kasus Pediatri dengan moderator Ibu Sri Sumaryani dan Ibu Elok dari Dinkes Kab. Jombang, yang didalamnya diberikan kesempatan berkonsultasi masalah Obstetri dan Pediatri di lapangan dengan para narasumber. Pada akhirnya diharapkan terdapat kesamaan persepsi serta adanya usaha bersama yang kongkret, terukur dan bertanggung jawab untuk menurunkan AKI dan AKB.
Menurut data Dinkes Kab. Jombang, tahun 2012 AKI 21 jiwa (AKI 102,91/100,000 KH) dengan AKB 247 jiwa (AKB 12,1/1000 KH). Tahun 2013 AKI 18 jiwa (AKI 89,7/100,000 KH) dan AKB 281 jiwa (AKB 14,0/1000 KH). Tahun 2014 AKI 26 jiwa (AKI 128,6/100,000) dan AKB 207 jiwa (AKB 10,4/1000 KH). Dari data tersebut menunjukkan masih adanya kenaikan AKI/AKB dan oleh karenanya berbagai upaya dilakukan. Salah satunya adalah menerapkan standar sistem EMAS (Expanding Maternal Neonatal Survival) sebagai implementasi kebijakan kerjasama Kementrian Kesehatan dengan USAID. Penerapan sistem Emas di Puskesmas Mojoagung meliputi peningkatan kapasitas sumber daya manusia kesehatan, ketersediaan fasilitas PONED, serta sistem rujukan yang terkoordinir.
Di Kabupaten Jombang dilakukan terobosan untuk menurunkan AKI-AKB melalui fasilitas “SMS bunda” yang telah dilaunching oleh Bupati Jombang Bpk. Drs. H. Nyono Suharli Wihandoko, MM. SMS Bunda merupakan layanan edukasi yang dapat memberikan informasi dan tips kesehatan bagi ibu hamil dan ibu nifas di Kabupaten Jombang, dengan cara mengirim SMS ke nomer layanan: 08118 469 468.
AKI dan AKB terbanyak di wilayah kerja Puskesmas Mojoagung adalah karena ibu dan keluarga tidak bersedia dirujuk dan lamanya pengambilan keputusan (keluarga) dalam merujuk mengakibatkan ibu atau bayi terlambat dirujuk sehingga ketika sampai di Rumah Sakit, ibu dan atau bayi sudah dalam keadaan yang sulit atau justru tidak tertolong.
Terjadinya kematian ibu terkait dengan faktor penyebab langsung dan penyebab tidak langsung. Faktor penyebab langsung kematian ibu di Indonesia masih didominasi oleh perdarahan, eklampsia, dan infeksi. Sedangkan faktor tidak langsung penyebab kematian ibu adalah karena masih banyaknya kasus 3 Terlambat dan 4 Terlalu, yang terkait dengan faktor akses, sosial budaya, pendidikan, dan ekonomi. Kasus 3 Terlambat meliputi:
• Terlambat mengenali tanda bahaya persalinan dan mengambil keputusan
• Terlambat dirujuk
• Terlambat ditangani oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan
Berdasarkan Riskesdas 2010, masih cukup banyak ibu hamil dengan faktor risiko 4 Terlalu, yaitu:
• Terlalu tua hamil (hamil di atas usia 35 tahun) sebanyak 27%. Ibu berusia di atas 35 tahun memiliki rahim yang tidak fleksibel lagi. Sehingga risiko kematian saat melahirkan cukup tinggi
• Terlalu muda untuk hamil (hamil di bawah usia 20 tahun) sebanyak 2,6%, jika ibu terlalu muda maka sel-sel rahim belum siap melakukan kegiatan reproduksi.
• Terlalu sering melahirkan (jumlah anak lebih dari 4) sebanyak 11,8%, dimana ibu terlalu sering dan kerap dipaksakan melakukan reproduksi berkali-kali. Sehingga, alat reproduksi mudah terkena masalah dan rentan saat melakukan persalinan.
• Terlalu dekat (jarak antar kelahiran kurang dari 2 tahun) menyebabkan rahim mudah terkena masalah. Karena baru saja melahirkan, dalam jangka waktu tidak terlalu lama ibu kembali melakukan persalinan.

Penyebab kematian terbanyak pada bayi adalah asfiksi, BBLR (berat badan lahir rendah) serta adanya kelainan kongenital. sementara itu, pneumonia dan diare merupakan penyakit infeksi yang telah merenggut 50 ribu Balita di Indonesia pada tahun 2013.

Penanganan diare secara tepat dan dini serta diagnosa dan pengobatan pneumonia yang tepat seharusnya dapat menurunkan AKB. terlebih lagi jika ASI ekslusif diterapkan dan anak-anak diajarkan untuk selalu mencuci tangan dengan sabun sebagai bagian dari pola hidup bersih dan sehat (PHBS)

Mari selamatkan ibu dan bayi
Menyelamatkan ibu dan bayi, adalah menyelamatkan kehidupan..

IMG-20130502-00994

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s