Mencegah dengan Lebih Memahami HIV-AIDS


 

Hari AIDS diperingati setiap 1 Desember. Gambaran temuan kasus HIV-AIDS adalah serupa fenomena gunung es. Sejak pertama kali ditemukan tahun 1987 sampai dengan September 2014, HIV-AIDS tersebar di 381 (76%) dari 498 kabupaten/kota di seluruh provinsi di Indonesia. Kasus HIV-AIDS di kalangan masyarakat khususnya perempuan usia produktif cenderung meningkat sehingga menjadi ancaman yang potensial, karena selain mengancam kehidupan ibu, ibu juga dapat menularkan virus kepada bayinya. Lebih dari 90% kasus anak terinfeksi HIV ditularkan melalui proses penularan dari ibu ke anak. Virus HIV dapat ditularkan dari ibu terinfeksi kepada anaknya selama kehamilan, saat persalinan dan saat menyusui. 21,103 ibu hamil yang menjalani tes HIV, 534 (2,5%) diantaranya positif HIV (Kemnenkes 2011).
HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah virus yang menyebabkan penyakit AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome). Seseorang yang terinfeksi HIV akan mengalami infeksi seumur hidup. Kebanyakan orang dengan HIV/AIDS (ODHA) tetap asimptomatik yaitu tanpa tanda dan gejala, untuk jangka waktu lama. Namun mereka telah dapat menulari orang lain.
AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome) adalah bentuk lanjut dari infeksi HIV, merupakan kumpulan gejala menurunnya sistem kekebalan tubuh. Infeksi HIV berjalan sangat progresif sehingga penderita tidak dapat menahan serangan infeksi jamur, bakteri atau virus. Kebanyakan orang dengan HIV akan meninggal dalam beberapa tahun setelah tanda pertama AIDS muncul bila tidak mendapatkan pengobatan.
Tanda pertama penderita HIV biasanya akan mengalami demam selama 3 sampai 6 minggu dimana tergantung daya tahan tubuh. Setelah kondisi membaik orang yang terinfeksi HIV akan tetap sehat dalam beberapa tahun dan secara perlahan kekebalan tubuhnya akan menurun.

Gejala-gejala awal dapat terjadi sebagai berikut:
– Penderita akan mengalami demam tinggi yang berkepanjangan
– Penderita akan mengalami napas pendek, batuk, nyeri dada dan demam, kehilangan nafsu makan, mual, dan muntah
– Diare kronis. Pada infeksi HIV dapat terjadi karena berbagai penyebab; antara lain infeksi bakteri dan parasit yang umum (seperti Salmonella, Shigella, Listeria, Kampilobakter, dan Escherichia coli), serta infeksi oportunistik yang tidak umum dan virus (seperti kriptosporidiosis, mikrosporidiosis, Mycobacterium avium complex, dan virus sitomegalo (CMV) yang merupakan penyebab kolitis).
– Batuk berekepanjangan. Esofagitis / peradangan pada kerongkongan (esofagus), yaitu jalur makanan dari mulut ke lambung. Hal ini terjadi karena infeksi jamur (kandidiasis) atau virus (herpes simpleks-1 atau virus sitomegalo) atau pada kasus yang jarang, dapat disebabkan oleh mikobakteria.
– Pembengkakan kelenjar getah bening diseluruh tubuh (dibawah telinga, leher, ketiak, dan lipatan paha).
– Sakit kepala, Sulit berkonsentrasi, Respon anggota gerak melambat, Sering nyeri dan kesemutan pada telapak tangan dan kaki.
– Terjadi serangan virus cacar air dan cacar api
– Infeksi jaringan kulit rambut
– Kulit kering dengan bercak-bercak
Sistem tahapan infeksi WHO
1. Stadium I: infeksi HIV asimtomatik dan tidak dikategorikan sebagai AIDS
2. Stadium II: termasuk manifestasi membran mukosa kecil dan radang saluran pernapasan atas yang berulang
3. Stadium III: termasuk diare kronik yang tidak dapat dijelaskan selama lebih dari sebulan, infeksi bakteri parah, dan tuberkulosis (TB).
4. Stadium IV: termasuk toksoplasmosis otak, kandidiasis esofagus, trakea, bronkus atau paru-paru, dan sarkoma kaposi. Semua penyakit ini adalah indikator AIDS.

Cara Penularan
1) Hubungan seksual; merupakan cara penularan terbanyak.
2) Pajanan oleh darah, produk darah atau organ dan jaringan yang terinfeksi; misalnya penggunaan jarum suntik tidak steril pada penasun, donor yang tidak melalui uji saring, atau penggunaan alat medis yang dapat menembus kulit, dan proses transplantasi organ.
3) Penularan dari ibu ke anak

HIV tidak ditularkan melalui:
– bersalaman, berpelukan, bersentuhan atau berciuman;
– penggunaan toilet umum, kolam renang, alat makan atau minum secara
bersama;
– gigitan serangga seperti nyamuk dan lain lain

Pencegahan HIV-AIDS dengan ABCD
A = Abstinence: artinya Absen seks, yaitu tidak melakukan seks bagi orang yang belum menikah dan menghindari seks bebas.
B = Be faithfull: Bersikap saling setia pada satu pasangan (tidak berganti-ganti pasangan)
C = us Condom : Cegah penularan HIV melalui hubungan seks dengan mengunakan kondom. Penggunaan kondom dapat mencegah interaksi cairan kelamin sehingga penularan virus dapat diminimalisasi.
D = Drug No: Dilarang menggunakan narkoba.

Berikut adalah data seputar HIV-AIDS (sumber Ditjen PP & PL Kemenkes RI , 17 Oktober 2014)
1. Jumlah kumulatif infeksi HIV yang dilaporkan sampai dengan September 2014 sebanyak 150.296.
Jumlah kumulatif AIDS dari tahun 1987 sampai dengan September 2014 sebanyak 55.799 orang.
2. Jumlah infeksi HIV tertinggi yaitu di DKI Jakarta (32.782), diikuti Jawa Timur (19.249), Papua (16.051), Jawa Barat (13.507) dan Bali (9.637)
3. Persentase kumulatif kasus AIDS tertinggi pada
– kelompok umur 20-29 tahun (32,9%), kemudian diikuti
– kelompok umur 30-39 tahun (28,5%),
– kelompok umur 40-49 tahun (10,7%),
– kelompok umur 50-59 tahun (3,4%), dan
– kelompok umur 15-19 (3,1%).
4. Persentase AIDS pada laki-laki sebanyak 54% dan perempuan 29%. Sementara itu 17% tidak melaporkan jenis kelamin.
5. Jumlah AIDS tertinggi adalah pada :
– ibu rumah tangga (6.539), diikuti
– wiraswasta (6.203),
– tenaga non-profesional/karyawan (5.638),
– petani/peternak/nelayan (2.324),
– buruh kasar (2.169),
– penjaja seks (2.052),
– pegawai negeri sipil (1.658), dan
– anak sekolah/mahasiswa (1.295).
6. Jumlah AIDS terbanyak dilaporkan dari Papua (10.184), Jawa Timur (8.976), DKI Jakarta (7.477), Bali (4.261), Jawa Barat (4.191), Jawa Tengah (3.767), Papua Barat (1.734), Sulawesi Selatan (1.703), Kalimantan Barat (1.699) dan Sumatera Utara (1.573).
7. Faktor risiko penularan terbanyak melalui heteroseksual (61,5%), penasun (15,2%), diikuti penularan melalui perinatal (2,7%), dan homoseksual (2,4%).
8. Angka kematian (CFR) menurun dari 3,79% pada tahun 2012 menjadi 0,46% pada bulan September tahun 2014

 

Dengan lebih memahami HIV-AIDS, mari bersama-sama mencegah HIV-AIDS berkembang di tengah-tengah kita

@diolah, dari berbagai sumber

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s