HUBUNGAN DOKTER-PASIEN TAK SEPERTI MESIN DAN TEKNISINYA (sebuah Resensi buku)


Judul : The Heart Speaks

Penulis : Mimi Guarneri, M.D.,FA.C.C

Penerbit : Touchstone Book, New York

Tahun: 2006

Penterjemah : Ella Elviana

Penerbit Terjemahan : PT SERAMBI ILMU SEMESTA , Jakarta

Tahun Terjemahan : 2007

Perkembangan teknologi kedokteran memang tak seharusnya membatasi hubungan dokter dengan pasiennya. Keterbatasan waktu seringkali dipakai alasan untuk tidak mendengarkan dengan baik keluhan pasien atau segera memotong pembicaraannya hanya beberapa detik setelah pasien mulai berbicara. Pendidikan Kedokteran yang ‘ala’ Barat, telah menseting mindset dokter untuk menganggap pasien hanyalah kantung berisi organ-organ tubuh. Serupa kumpulan mesin-mesin yang sudah rusak dan harus segera direparasi. Hal ini sebenarnya kontradiktif dengan harapan pasien terhadap dokternya.

Pasien berharap dokternya menggunakan keahlian dan kemanusiaan yang mereka miliki untuk mengatasi masalah yang sering kali rumit, pada tubuh dan hidup mereka, lalu menafsirkannya menjadi sebuah diagnosis. Mereka ingin dokternya melihat, membaca gejala dan menjelaskannya pada mereka. Mereka ingin dokter yang mereka kunjungi menjadi penafsir dari musibah yang menimpa mereka.”

Diatas adalah kutipan dari buku yang membahas harapan pasien terhadap dokternya. Dilain pihak dokter belum tentu bisa memberikan seperti harapan pasien. Bahkan untuk mendengarkan perjalanan penyakit pasien pun dokter sudah tidak punya waktu, dibuku ini penulis mengutip bahwa ada penelitian yang  menyatakan bahwa dokter sudah menyela pembicaraan pasien hanya setelah 18 detik pasien itu mulai bicara. Pada akhirnya pasien lebih memilih mengunjungi “Pengobatan Alternatif” yang notabene tidak pernah mendapat pendidikan dokter/ medis sama sekali ,tetapi lebih mempunyai waktu dan perhatian untuk pasien.

Buku ini terus terang membuat saya sebagai pembaca lebih berpikir dan menggunakan hati dalam mencerna harapan pasien ini. Sebagai dokter tentu saja saya sangat ingin bisa memenuhi harapan pasien tetapi tentunya banyak kendala yang dihadapi. Sebagai contoh seorang dokter yang dinas di Puskesmas yang harus memeriksa pasien rawat jalan sejumlah minimal 50 pasien perhari dengan jam pelayanan di poli mulai jam 8 sampai jam 12 , tentunya kontak mulai anamnesa hingga pembuatan resep tak bisa lebih dari 5 menit per pasien. Bila Puskesmas sedang ramai dengan pasien lebih dari 100 pasien tentu bisa dibayangkan betapa banyak pasien yang kecewa karena harapannya tidak bisa terpenuhi, kecewa karena keluhannya tidak didengarkan dengan baik, kecewa karena tidak diperiksa secara lengkap dari atas hingga kebawah dan banyak lagi kekecewaan. Bagaimana pula dengan Puskesmas yang pasiennya mencapai 350 pasien per hari ? mungkinkah hal ini dilaksanakan ?

Penulis adalah seorang ahli jantung yang telah ribuan kali memasang stent di arteri coroner jantung. Operasi pemasangan stent bisa dinyatakan 99% aman, tapi itu menurut dokter. Pemasangan alat pada suatu tubuh bagi seorang dokter adalah hal yang sangat biasa, tetapi bagi pasien adanya suatu alat pada tubuhnya itu akan menjadi hal yang luar biasa dan sangat berpengaruh dalam hidupnya. Respon pasien terhadap penyakit, tindakan medis, pemeriksaan dengan alat canggih, pemasangan alat dalam tubuh memang bervariasi dan seharusnya mereka mendapat penjelasan yang cukup sehingga tidak terjadi kesalahpahaman di kemudian hari. Saya ingat pasien saya yang telah menderita penyumbatan salahsatu pembuluh darah di jantungnya, karena ketakutan yang berlebihan dan depresi sehingga pasien ini selalu menolak saat disarankan akan dipasang stent, padahal ini gratis karena beliau memiliki askes. Dan akhirnya beliau lebih memilih pengobatan alternative yang tidak jelas  hingga akhir hayatnya, meskipun hal itu lebih menghabiskan keuangan beliau.

Penulis sebagai seorang Cardiolog dengan gaya menulis naratif menceritakan perjalannya selama menjadi seorang ahli jantung dengan pendidikan Kedokteran ala Barat, hingga bertemu dengan beberapa pasien dan rekan yang telah mengubah “doktrin” yang telah melekat dalam dirinya untuk menjadikan penulis sebagai seorang dokter yang lebih manusiawi, yaitu sebagai dokter ahli holistic terapi. Penulis yang sebelum menjadi dokter telah menjadi seorang sarjana Sastra Inggris ini bisa menjelaskan suatu hal medis yang begitu rumit dengan bahasa yang lebih mudah untuk dipahami, terutama oleh pembaca diluar kalangan medis. Dan tentu saja untuk kalangan medis, buku ini cukup menyentuh hati dan pikiran tentunya. Penulis sepertinya ingin mengajak pembaca terutama para dokter untuk bisa lebih manusiawi dalam menangani pasiennya, dengan berbagai metode yang tidak pernah diajarkan dipendidikan kedokteran ala Barat tentunya.

Meskipun didukung beberapa jurnal dan buku teks, tetap saja buku ini menekankan pendapat pribadi Dokter Mimi Guarneri bahwa jantung manusia bukan hanya alat pompa darah. Sayangnya, pendapat ahli menurut kuliah Evidence Based Medicine adalah scientific level  terendah/terlemah  adalah expert  opinion, dan yang terkuat adalah Mega trials.

Bagaimanapun, kelebihan Dokter Mimi  Guarneri sebagai penulis di buku ini bisa menampilkan banyak penyebab penyakit Cardiovasculer yang diulas dari sisi lain. Penulis menekankan bahwa penyakit serangan jantung bukan hanya disebabkan karena factor hipertensi, diabetes,  hiperkolesterol dan obesitas, Dibuku ini penulis  menggiring pembaca untuk memahami bahwa serangan jantung bisa disebabkan karena factor-faktor psikologis. Manusia, oleh penulis dipandang sebagai kesatuaan holistic yang tidak bisa dipisahkan antara jiwa dan raganya. Sehingga serangan jantung dibuku ini lebih dikaji dari anamnesa historis pasien itu dimana penulis menggali lebih dalam pemicu serangan jantung yang ada pada diri pasien , dimana pemicu itu terkadang seperti bom yang telah dipendam begitu dalam oleh pasien hingga waktunya meledak, saat serangan jantung terjadi.

Faktor –faktor psikologis itu antara lain adalah kesedihan yang mendalam (kehilangan anak, keluarga), pekerjaan dengan stressor tinggi, depresi,  gila kerja, kesepian, adanya rasa permusuhan . Hal diatas kadangkala tidak sempat tergali oleh seorang dokter waktu anamnesa, tetapi hal ini terbukti menjadi pemicu adanya serangan jantung pada seseorang bahkan yang tidak mempunyai factor resiko fisiologis sekalipun. Hebatnya lagi, penulis mencantumkan sumber bacaan dari jurnal maupun buku teks untuk memperkuat argumennya bahwa stressor psikologislah yang sangat berperan memicu serangan jantung.

Karena serangan jantung bukan hanya disebabkan factor fisik maka penulis juga memberikan advis yang non farmakologik untuk membantu perbaikan kondisi pasien-pasien paska serangan jantung. Yang bisa saya rangkum disini ada beberapa strategi penyembuhan yang tanpa efek samping yang disarankan oleh penulis. Pertama adalah Bersyukur, buatlah daftar tentang hal yang pantas disyukuri (bahkan jika kekecewaan pun boleh dimasukkan), kemudian tulis kalimat “ Saya bersyukur atas……(isi dengan hal yang kita syukuri. Bersyukur akan memberikan rasa bahagia dan menimbulkan pikiran positif,dari hal itu akan menimbulkan kesehatan. Kedua, Memberi maaf . Pemberian maaf atas semua kejadian masa lalu akan mengurangi kepahitan, amarah, kebencian dan ketakutan. Ketiga, Ingatlah saat berbahagia dan pikirkan tentang orang yang kitacintai lalu fokuskan pada rasa syukur kepadanya. Keempat, Berdo’a, Doa terbukti mempercepat penyembuhan dan pasien, 48% pada suatu penelitian menginginkan dokter ikut berdo’a bersama mereka.

Masih adakah waktu kita para dokter untuk bersama-sama berdoa memohon atas kesembuhan pasien-pasien kita ??

(Resensi oleh dr.Intan Nurswida)

Iklan

6 tanggapan untuk “HUBUNGAN DOKTER-PASIEN TAK SEPERTI MESIN DAN TEKNISINYA (sebuah Resensi buku)

  1. dr Intan udah melangkah lebih jauh nih dari sekedar bekerja ikhlas
    dalam bekerja, rata-2 hanya 50% yang bisa effektif dan sisanya???
    sisa ini adalah saat saat untuk doa, sisipkan doamu setiap saat
    bahkan kita bisa mencuri waktu ini ketika bersama pasien
    tanpa perlu siapapun tau….

  2. saya suka buku ini, kalo boleh saya berpendapat.
    buku tersebut seprtinya wajib di baca olh semua kalangan medis. paramedis sekalipun. Di puskesmas, paramedis biasanya ikut juga memeriksa pasien dan tidak hanya dokter saja.

  3. to : Abdul Aziz, Combes.com ,dr.Lani ,Sopyan , Hafid Algristian

    Terima kasih sudah menyukai resensi ini. Semoga kita bisa sama-sama introspeksi diri untuk masa mendatang yang lebih baik. Bukankah memang begitu yang diharapkan dari Hubungan Antar Manusia ???
    Sukses buat Anda semua

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s