REFLEXION SHIFT 2


APAKAH BOHONG ITU BAIK ?

Ketika itu aku masih anak anak. Kami tiga bersaudara

Ayahku adalah seorang pegawai biasa dengan gaji pas pasan

Ibuku adalah ibu rumah tangga biasa (YANG LUAR BIASA MENURUTKU!!)

Waktu itu 2 orang kakak ku SMP dan SMA sementara aku baru kelas 6 SD.

Ujian sudah di depan mata dan biaya masuk sekolah SMP sudah terbayang

Untuk membantu ayah, ibuku menjajakan roti dan menjadi pengantar catering Dengan usaha lepas demikian ibu bisa tetap di rumah waktu kami pulang (begitu alasannya)

Karena kebutuhan semakin banyak

Maka ibu mengambil pekerjaan tambahan memasang kancing baju secara borongan dari sebuah usaha konveksi rumahan dan dikerjakannya setelah makan malam atau usaha apapun yang bisadikerjakannya di rumah malam hari.

Melihat ibuku mengantuk, aku berusaha membantu

“Tidak usah nak, kamu kan harus belajar”

“Tetapi ibu sudah mengantuk kan?” tanyaku

“Tidak,,kamu tidur saja kalau sudah selesai belajar, ibu belum mengantuk”

Waktu itu musim panas dan aku harus ujian olahraga

Ternyata uang jajan sudah menipis dan aku lupa membawa air minum

Karena ingin menyemangati ku atau entah kenapa (pikirku saat itu) ibu dating ke sekolahku dan menunggu di dekat lapangan olahraga

Rupanya dia tahu aku lupa membawa minum, waktu jeda, aku dipanggilnya

“lihat keringatmu nak, ayo minum dulu”

Dan dikeluarkannya sebotol minum yang masih penuh diantara barang dagangan dan makanan yang harus diantarnya

Seprti biasa, ibuku hanya berjalan kaki bila mengantar makanan karena kami tidak mempunyai kendaraan ataupun biaya, sepeda terakhir telah dijual ayah untuk biaya masuk sekolah SMA kakakku tahun lalu

“Ayo minum lagi, nanti kamu tidak kuat”

“Udahlah bu, ibu kan pasti perlu minum juga”

(tanpa sadar aku sudah menghabiskan minum bekal ibu hamper ¾ botol)

“Ibu tidak haus kok nak, untuk kamu saja ya” kata ibu tersenyum tanpa sadar dia melap keringatnya dan kulihat ibu menelan ludah berkali kali.

Setelah itu ibu pergi ketika aku harus meneruskan ujianku.

Ini adalah “kebohongan” ibuku yang kedua kali, yang kuingat.

Pada suatu hari setelah selesai memasak makan siang, ibu menyiapkannya untuk kami,kebetulan siang itu ayah berada di rumah juga karena semalam sudah lembur. Melihat semangat kami makan, ibu menambahkan sesendok nasi ke masing masing piring kami, kecuali ayah.

“Lho ibu kok tidak makan, itu kan nasi ibu, aku tidak mau”

“Siapa bilang ibu belum makan? Ibu masih kenyang, kalian aja makan”

Tanpa membantah lagi kamipun makan, walaupun sederhana tetapi karena dimakan bersama keluarga rasanya begitu nikmat, apalagi ibu tidak henti hentinya menolong kami mengambilkan ini itu keperluan makan. Tetapi siang itu kuperhatikan ibu tidak menyentuh makanan sama sekali sebelum bekerja. Kali ini adalah kebohongan ibu yang ketiga.

Musibah dapat saja terjadi setiap waktu. Ayah mengalami musibah di tempat kerjanya yang mengakibatkan dia tidak mampu bekerja dan bahkan akhirnya meninggalkan kami semua. Ibu menghadapi saat yang berat ini tanpa airmata apalagi di depan kami, senyum ibu masih seperti dulu walaupun aku tahu di dalam hatinya tidaklah begitu.

Suatu hari ibu marah kepadaku karena aku membelikannya sepatu.

“Kenapa kamu buang buang uang? Apa kaki ibu sudah tidak kuat berjalan?”

“Tidak apa bu, aku rela kok. Kaki ibu nanti sakit kalau berjalan tanpa alas, apalagi resiko kena paku dan kuman. Hiii…”

“Buktinya ibu sehat aja selama ini, ayam juga tidak pernah bersandal, mana ada yang sakit?” Kaki ibu baik baik saja nak, berhematlah”

Kebohongan kali ini adalah yang ke empat yang kuingat.

Ibu tidak pernah tahu, kadang aku melihat dia kesakitan di malam hari saat menggosok kakinya dengan paraffin yang dulu diberi olah majikannya. Kadang airmatanya menetes diam diam. Ibu masih harus bekerja keras, tanpa ayah. Walaupun kakak pertamaku sudah berkeluarga dan kakak kedua dapat beasiswa kuliah beserta biaya hidupnya di luar kota.

Walaupun kami tinggal berdua ibu masih sering mengurangi porsi makannya karena aku memang “pelahap”, begitu kata ayah (alm) dahulu. Badanku yang tegap merupakan bukti nyata dan dalam satu tahun, belum tentu aku perlu mengunjungi dokter, puskesmas apalagi ke rumah sakit. Sekali sekali aku ke rumah sakit karena harus melakukan general check up saat akan sekolah atau bekerja. Aku masih tinggal bersama ibu sampai pendidikan S2 ku selesai.

Suatu hari akupun mendapat beasiswa S3 dan terpaksa harus keluar kota.

Ibu sudah tidak bekerja lagi karena kami sudah mampu membantu biaya hidupnya, tetapi akibat dari kerja kerasnya di masa lalu, kesehatannya sering terganggu. Siang itu aku mendapat kabar dari kakak, ibu masuk ke rumah sakit dan keadaannya kurang baik. Beruntung aku bisa mendapat tiket pulang.

Sampai di rumah sakit, kulihat ibu di ruang perawatan intensive

Mungkin merasa aku ada di dekatnya, ibu menengok ke jendela, senyumnya tidak pernah ku lupakan. Apalagi bila tersenyum ada lesung pipit dan sinar mata yang menantang yang selalu menjadi pemicu semangatku setiap saat

Aku agak terkejut melihat wajah ibu yang agak kuyu sebelum dia melihat kehadiranku. Tantangan yang kini berkurang mulai meredupkan sinar matanya. Mungkin untuk tetap “hidup” seseorang memerlukan sesuatu yang menantang. Entahlah. Diapun tampaknya tidak bisa lagi menahan nyeri perut pada daerah ulu hatinya. Sejak dulu sebetulnya aku tau ibu mengidap penyakit ini, tetapi dia selalu mengatakan sakit maag biasa kata dokter dan tidak berbahaya. “Lambung itu kan jauh dari nyawa.”

Kemudian aku mendapat giliran untuk masuk ke dalam ruangan itu

Ibu sangat senang tampaknya tetapi dia malah menangis. Sesuatu yang tidak biasa aku lihat sejak masa kecilku “Ibu sangat bahagia nak, kamu datang juga, sebetulnya ibu tidak perlu di bawa ke rumah sakit. Buang buang uang”

“Siapa bilang buang uang bu. Kami kan sudah merepotkan ibu selama ini dan kini gantian kami merawatmu.

“ Ha ha ha, kamu semakin pandai seperti ayah….”

Tiba tiba ibu “agak meringis” mungkin nyeri lambungnya kambuh karena tertawa. Ada gejala nausea dna vomit, tetapi ibu berusaha menahannya.

“Ibu, sakit sekali ya? Kupanggil nurse ya?”

“Tidak nak, ibu tidak apa-apa” katanya sambil menahan tangganku sementara tangan yang lain memegang foto wisuda S3 ku yang baru diterimanya kemarin.

Tapi, ini adalah kebohongan kelima.

Kemudian kami semua berkumpul di dekat ibu, dokter mengijinkannya. Kami sangat khawatir dengan keadaan ibu, tetapi ibu masih sadar dan memegang tangan kami semua. “Tugas ibu sudah selesai, jangan mudah putus asa….”

Kali ini ibu tidak bohong, dan dengan kasihnya yang besar dia menyelesaikan tugas akhirnya sendiri, diiringi doa doa kami dan para kerabat mengantarnya ke peristirahatan terakhirnya (Tamat)

(Story telling, from no name)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s