Terima tamu


Senin siang kami di Puskesmas Mojoagung dikunjungi oleh salah seorang “agen bukan agen rahasia” dari markas MarkPlus (milik konsultan terkenal) yang berada di Surabaya. Saya kenal beliau sebagai pak Soni, aduh, nama panjangnya tidak tahu juga …… Hebohnya lagi, beliau bawa staf serta client yang akan membuat suatu sarana pelayanan kesehatan spektakuler di daerah Blitar. Yang jelas, bukan pesaing bagi puskesmas Mojoagung sehingga kita bisa blaa…bla… blaa… tentang diri “kita”.


Waduh, sebelumnya saya sempat mikir macem-2, minder, dan hampir tak berdaya. Gimana tidak, Markplus konsultan ‘kelas dunia’ dan client yang diajak dolan ternyata seorang spesialis lulusan Ausie …. Wahwah… ternyata di sinilah intermezonya. Mereka (mungkin) underestimate terhadap kita dan saya (mungkin teman lain tidak) overestimate pada mereka. Terbukti mereka bercerita bahwa ternyata puskesmas ini kok tidak hanya terdiri dari 3 ruangan (daftar-layanan- bayar) seperti bayangan mereka. Maka segera aja saya tambahkan, yalah bapak, puskesmas sekarang juga bukan hanya 3 ranah yaitu: Pusing, Keseleo dan Masuk angin…. Ha ha ha…. Setelah tawa itu, nyambung sudah diskusi kita.

Setidaknya saya dan beberapa teman dapat pelajaran marketing gratis antara lain tentang:

1. Segmentasi pelanggan.

Segmentasi pelanggan puskesmas ada 3 kelompok : yang sederhana, menengah dan atas yang harus dapat kita penuhi kebutuhannya sesuai kemampuan kita dan harus rajin memberikan penjelasan tentang pelayanan kita. Walaupun ada perbedaan pelayanan dengan akibat beda pada tariff kita harus berani memberikan penjelasan tentang beda tersebut dan memberi kesempatan mereka untuk memilih. Secara jujur kita juga perlu memperhatikan ‘kesehatan’ organisasi dengan membidik pelanggan secara efisien. Dokter dan perangkatnya dalam bekerja bukan terfokus pada desain fisikal tetapi pada sentuhan atau lebih mempunyai meaning. (komentarku, barangkali seperti iklan ‘itu’ ya yang lebih menekanan ‘taste’ maka kalau dokter dkk harus lebih punya’meaning’..???)

2. Pengertian tentang ‘bisnis’ .

Kata beliaunya, dokter sering alergi pada kata bisnis, karena bisnis dipikir hanya uang padahal bisnis is …. Bla bla bla…. Setelah melihat puskesmas Mojoagung, katanya di kelola dengan sentuhan bisnis. Saya ok saja karena konsep bisnis saya kebetulan sama dengan the guests star.. Satu yang saya tangkap, pelayanan yang jujur, ramah, sopan, baik, sabar dst… dst.. adalah bagian dari bisnis (ku). Kemudian aku renungkan, upahnya tidak selalu fresh money lho, tapi bisa saja promkes yang responable, menurunnya gizi buruk, meningkatnya cakupan imunisasi, tercapainya program uks en so on en so on…Dampak fresh moneynya makro, artinya milik masyarakat. Tapi setidaknya dalam hati mereka sudah tertanam siapa / puskesmas mana yang punya meaning sampai sebegitu… (aduh, kata kata meaning selalu muncul..)

3. Cara menjadi dokter yang tetap awet muda.

Mau awet muda? Maksudnya bukan mudah secara umur tapi .. isi hatinya. Harus banyak belajar dong….bukan yang medis saja tetapi belajar melayani dengan hati, belajar juga menemukan pelayanan unggulan untuk dijadikan icon..dst.dst..

(komentarku, kalau di pindai dengan gambaran CT Scan otak cocok juga, orang yang aktif biasanya lambat mengalami demensia cerebri. Ha ha ha)

Mungkin catatan ini tidak lengkap dan benar benar seperti yang dikatakan pak Soni, karena untuk mencapai kesepahaman memang perlu waktu dan kejelian, sayapun masih harus belajar banyak. Jadi gimana kalau kita suatu saat belajar bareng, pemasaran atau marketing di puskesmas? Walau mirip promkes yang sudah kita miliki ada sedikit beda…. Meaning…. Itu tadi.

Salam,

the motivator – change leader ……

Iklan

3 tanggapan untuk “Terima tamu

  1. Salam kenal, thanks udah main ke bog saya.

    Btw, tulisan Anda lucu dan unik. Saya tertarik dengan kalimat “….bukan yang medis saja tetapi belajar melayani dengan hati’. Saya jadi ingat saya pernah mengeluhkan hal yang sama waktu ngantar anak saya periksa ke dokter, sempat pindah2 dokter2 karena tidak cocok aja. Dan saya tersadar bahwa dokter2 spesialis (yang notabene guru2 kita) itu pun ternyata tidak memiliki “protab standar” dalam hal PEOPLE SKILL.

    Saya berharap suatu saat nanti akan ada standarisasi pelayanan non-medis untuk dokter2 di Indonesia. Maksud saya hal2 yang berkaitan dengan pengobatan MENTAL pasien. DImulai dari hal2 kecil spt senyum, keramahan, kemampuan menunjukkan empati, dsb. Ini yang masih sering dilupakan dokter2 INdonesia. Kenapa ya? Kalo menurut Mas gimana?

    “….bukan yang medis saja tetapi belajar melayani dengan hati.” Itu memang tidak gampang. Hampir sesulit menjadi dokter itu sendiri. Sepakat, Mas? Hehehe..

    Salam dari Semarang,
    Elvin Miradi

  2. To: Elvin Miradi
    Menarik bukan tulisan dari KAPUS kami yang baru dr.Sriwulani Sumargo, Sp.R.
    Ya itulah ilmu yang diajarkan di Puskesmas Mojoagung, “Pelayanan dengan sepenuh hati”, mungkin ini sedikit hal baik yang bisa kita bagi-bagikan. Pasien senang kita pun bahagia begitu kiranya.
    Ilmu ini sebelumnya pernah diulas oleh dr.Heri W, M.Kes (Kapus PKM Mojoagung sebelumnya) yang dituang dalam “6 Nilai Dasar Melayani dengan Hati”
    https://puskesmasmojoagung.wordpress.com/2009/01/16/6-nilai-dasar-…ni-dengan-hati6-nilai-dasar-melayani-dengan-hati/
    Harapan kami hal yang baik inilah yang akan mendarah daging diantara kita para pelayan masyarakat dan kami berusaha mewujudkannya dan bukan hanya sebagai sebuah teori.

    To : dey
    Makasih supportnya, Semoga Puskesmas Cukir juga tambah sukses aja ya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s