Tag

, ,


Oleh : Dr. H. Miftah, SpPD

Disampaikan pada Seminar Pendidikan Pencegahan dan Penanganan Penyakit Metabolik (Gedung Viva Mojoagung 7 November 2009)

PENDAHULUAN

Sejak tahun 1980 an terdapat polla hidup di Indonesia yang “Westernized” (kebarat-baratan). Selain perubahan aktivitas fisik yang mempunyai kecenderungan berkurangnya aktifitas fisik juga ada perubahan pola makan cepat saji, yang mempunyai kalori dan lemak tinggi. Perubahan pola hidup tersebut erat sekali dengan timbulnya penyakit – penyakit metabolic seperti : Obesitas (kegemukan atau kelebihan berat badan), diabetes mellitus, sindroma metabolic, dll

Penyakit-penyakit metabolic tadi akhirnya berkembang menjadi penyakit kardiovaskuler (penyakit jantung dan pembuluh darah) yaitu Penyakit Jantung Koroner, Stroke dan lain-lain. Sejalan dengan keberhasilan pembangunan diberbagai bidnag dan dengan melihat dinamika kehidupan bangsa Indonesia maka akan terjadi perubahan pula pada sector kesehatan.

KEADAAN DAN MASALAH

Keberhasilan pembangunan di segala sector, utamanya sector kesehatan telah mengubah kehidupan manusia. Perubahan –perubahan yang terjadi antara lain :

-         Perubahan perilaku / kebiasaan hidup : berkurangnya aktivitas fisik, kebiasaan merokok, selalu tergesa-gesa dan sebagainya.

-         Perubahan social ekonomi : meningkatnya pendapatan perkapita, perubahan pola konsumsi, perubahan gaya hidup dan sebagainya

-         Semakin meningkatnya umur harapan hidup seseorang

-         Bergesernya pola penyakit menular mengarah kepada penyakit-penyakit tidak menular

-         Berubahnya urutan penyakit penyebab kematian umum

BEBERAPA PENYAKIT METABOLISME YANG MERUPAKAN FAKTOR RESIKO TERJADINYA PENYAKIT KARDIOVASKULER

  1. DIABETES MELLITUS

Adalah penyakit yang disebut ‘Sillent Killer’. Sering kali seorang penderita tidak menyadari bahwa dirinya mengidap kencing manis. Jika tidak segera ditangani dengan cepat diabetes mellitus akan menimbulkan berbagai komplikasi penyakit yang menurunkan produktivitas kerja penderita. Oleh karena itu pencegahan ataupun pengobatan yang optimal harus dilakukan untuk menghindari efek buruk yang ditimbulkan diabetes mellitus.

  1. Terjadinya Diabetes Mellitus

Penyakit ini timbul karena kadar gula seseorang terlalu tinggi, akibat gangguan metabolisme glukosa.

Pankreas penderita diabetes mellitus tidak mampu menghasilkan hormone insulin yang berperan dalam metabolisme glukosa yaitu menstimuli sel untuk mengabsorbsi glukosa dari darah untuk digunakan sebagai sumber energi. Akibatnya glukosa menumpuk didalam darah , mengakibatkan gejala-gejala penyakit diabetes mellitus.

  1. Tipe Diabetes Mellitus

  1. Diabetes Mellitus tipe 1 (Diabetes Mellitus tergantung Insulin = DMTI).

Penyebabnya adalah kerusakan sel β (beta) pulau Langerhans di Pankreas akibat proses penyakit autoimun, akibatnya tubuh tidak mampu menghasilkan hormone insulin tadi. Pada penderita DM 1 ini mutlak harus diberikan insulin dari luar untuk membantu proses metabolisme glukosa yaitu mengabsorbsi glukosa dari darah masuk ke dalam sel-sel atau jaringan untuk dirubah menjadi energi. Gejala klinisnya biasanya timbul pada masa kanak-kanak dan puncaknya pada masa akil balik.

  1. Diabetes Mellitus Tipe 2 (Diabetes mellitus Tak Tergantung Insulin = DMTTI)

Penyebab diabetes mellitus tipe ini adalah adanya kegagalan relative sel β dalam memproduksi insulin sehingga jumlahnya tidak mencukupi dan adanya resistensi insulin. Resistensi insulin adalah menurunnya kemampuan insulin untuk merangsang ambilan (absorbsi) glukosa oleh jaringan perifer (otot , dll) dan menghambat produksi glukosa oleh sel hati. sel β tidak mampu mengimbangi resistensi insulin sepenuhnya, artinya terjadi defisiensi relative insulin. Ketidakmampuan ini terlihat dari berkurangnya sekresi insulin pada rangsangan glukosa bersama bahan perangsang sekresi insulin lain. Perlu diketahui bahwa sekresi insulin kedalam darah dari pancreas terjadi atas rangsangan glukosa dan bahan-bahan lain dalam darah.

Penyakit diabetes mellitus tipe ini umumnya mulai tampak pada seseorang yang telah berumur 40 tahun.

  1. Gejala-gejala klinis penyakit diabetes mellitus (kencing manis)

Gejala – gejala klinis diabetes mellitus yang klasik : mula-mula polifagi (banyak makan), polidipsi , poliuri, napsu makan menurun dan berat badan turun, bahkan dapat disusul dengan mual-mual dan koma diabetic. Gejala kronik lain yang sering : lemah badan, semuten, mialgia (nyeri otot), artralgia (nyeri sendi), mata kabur, sering ganti ukuran kaca mata, penurunan kemampuan seksual, gatal dan peradangan kulit menahun dan lain-lain.

  1. Komplikasi menahun (kronik) yang sering mengikuti diabetes mellitus

-         gagal ginjal

-         penyakit jantung

-         inpoten

-         kerusakan otak (saraf pusat) : stroke

-         kerusakan saraf perifer (tepi) : kesemuten, hilang rasa, kram, nyeri saraf waktu malam (nocturnal pain)

-         kerusakan saraf autonom : diare diabetic, retensi urin (air kencing terkumpul di kandung kemih tidak bias keluar), distribusi keringat tidak merata, ada yang kering ada yang basah

-         mata ; kebutaan

-         infeksi : tuberculosis paru, infeksi saluran kemih, jamur, karbunkel (bisul)

-         kaki diabetic (ganggren diabetic)

  1. Cara menguji apakah seseorang terkena diabetes mellitus :

Jika air kencing seseorang dikerumuni semut, kemungkinan besar orang tersebut menderita diabetes mellitus.

Menggunakan kertas khusus : uristix dicelupkan kedalam air kencing, jika warna kertas  berubah, orang tersebut menderita diabetes mellitus.

  1. Tip bagi penderita diabetes mellitus :

Apabila seseorang menderita diabetes mellitus setelah umur 40 tahun, sering kali penyakit ini dapat dikontrol tanpa perlu menggunakan obat. Yang dilakukan adalah mengatur pola makan dengan program diet. Dengan menerapkan aturan ketat dalam hal makan dan perilaku hidup, diharapkan si penderita akan hidup seperti biasa meskipun menyandang diabetes mellitus.

Aturan makan untuk penderita diabetes mellitus  : Orang gemuk yang menderita diabetes mellitus harus mengurangi berat badannya samapai mencapai normal. Makanan yang diasup harus berkadar protein nilai tinggi (ikan, telur, daging tak berlemak), sayuran berwarna hijau gelap, buncis, kacang kacangan dan lain sebagainya. Juga harus mengkonsumsi makanan yang berkadar tepung rendah.

Untuk penderita diabetes mellitus yang berusia muda (diabetes mellitus tipe 1) memerlukan obat khusus (insulin).

  1. Hal-hal yang harus dilakukan untuk pencegahan yang erkaitan dengan Diabetes Mellitus

-         Berolah raga yang teratur

-         Tidak merokok

-         Menjaga berat badan ideal agar tidak terjadi obesitas (kegemukan )

-         Melakukan pemeriksaan penyaring pada kelompok dengan resiko tinggi untuk diabetes mellitus, yaitu kelompok usia dewasa tua (>40 tahun), obesitas, tekanan darah tinggi, riwayat keluarga diabetes mellitus, riwayat kehamilan dengan berat badan lahir bayi >4000gram, riwayat diabetes waktu hamil (diabetes kehamilan) dan dislipidemia (kelainan lemak darah). Pemeriksaan penyaring dilakukan dengan pemeriksaan glukosa darah sewaktu / acak, glukosa darah puasa kemudian diikuti dengan Tes Toleransi Glukosa Oral (TTGO). Untuk kelompok resiko tinggi, bila hasil negative perlu pemeriksaan ulangan tiap tahun. Bagi kelompok >40 tahun tanpa resiko, pemeriksaan penyaring dapat dilakukan tiap 3 tahun.

-         Bagi penderita diabetes mellitus melakukan pemantauan kadar glukosa darah secara mandiri di rumah

-         Check Up kesehatan menyeluruh di rumah sakit

-         Memeriksakan mata secara teratur

-         Mengatur penggunaan gula yang rendah kalori

II. DISLIPIDEMIA

Dislipidemia adalah kelainan metabolisme lipid ( lemak) yang ditandai dengan peningkatan atau penurunan fraksi/jenis lipid dalam plasma/darah.Kelainan fraksi lipid yang utama adalah kenaikan kolesterol total, kolesterol low density lipoprotein (LDL), trigliserida serta penurunan kolesterol high density lipoprotein (HDL).

Lemak adalah zat yang kaya energi yang berfungsi sumber energi utama untuk proses metabolisme tubuh. Lemak diperoleh dari makanan atau dibentuk didalam tubuh terutama di hati dan disimpan didalam sel-sel lemak sebagai cadangan untuk dipergunakan di kemudian hari.

Sel-sel lemak juga melindungi tubuh dari dingin dan membantu melindungi tubuh terhadap cidera.Lemak merupakan komponen penting dari selaput sel, selubung saraf yang membungkus sel-sel saraf. 2 lemak utama dalam darah adalah kolesterol dan trigliserida. Lemak didalam darah terikat pada protein tertentu sehingga bias beredar ikut aliran darah; gabungan antara lemak dan protein disebut lipoprotein.

Lipoprotein yang utama adalah :

-         Kilomikron

-         VLDL (very low density lipoprotein)

-         LDL (low density lipoprotein)

-         HDL (high density lipoprotein)

Setiap jenis lipoprotein mempunyai fungsi yang berbeda dan dipecah serta di buang dengan cara yang sedikit berbeda. Misalnya kilomikron berasal dari usus membawa lemak jenis tertentu yang telah dicerna dari usus kedalam aliran darah. Serangkaian enzim kemudian mengambil lemak dari kilomikron yang digunakan sebagai energi atau untuk disimpan didalam sel-sel lemak. Pada akhirnya kilomikron yang tersisa (yang lemaknya telah diambil) dibuang dari aliran darah oleh hati.

Tubuh mengatur kadar lipoprotein melalui beberapa cara :

-         Mengurangi pembentukan lipoprotein dan mengurangi jumlah lipoprotein yang masuk kedalam darah

-         Meningkatkan atau menurunkan kecepatan pembuangan lipoprotein dari dalam tubuh

Kadar lemak yang abnormal dalam sirkulasi darah (terutama kolesterol) bias menyebabkan masalah jangka panjang . Resiko terjadinya arterosklerosis (penyakit arteri koroner atau penyakit arteri karotis) meningkat pada seseorang yang mempunyai kadar kolesterol total yang tinggi.

Kadar kolesterol rendah biasanya lebih baik dibandingkan dengan kadar kolesterol yang tinggi , tetapi kadar yang terlalu rendah juga tidak baik. Kadar kolesterol total yang ideal adalah 140-200 mg/dl atau kurang. Jika kadar kolesterol total mendekati 300 mg/dl maka resiko terjadinya serangan jantung lebih dari 2 kali.

Tidak semua kolesterol meningkatkan resiko terjadinya penyakit jantung . Kolesterol yang dibawa oleh LDL (disebut juga kolesterol jahat) menyebabkan meningkatnya resiko, kolesterol yang dibawa oleh HDL (disebut juga kolesterol baik) menyebabkan menurunnya resiko dan menguntungkan.

Idealnya kadar kolesterol LDL tidak boleh lebih dari 130 mg/dl dan kadar kolesterol HDL tidak boleh kurang dari 40 mg/dl. Kadar HDL harus meliputi labih dari 25% dari kadar kolesterol total.

Sebagai factor resiko dari penyakit jantung, kadar kolesterol total tidak terlalu penting dibandingkan dengan perbandingan kolesterol total dengan kolesterol HDL atau perbandingan kolesterol HDL dengan kolesterol LDL.

Apakah kadar trigliserida yang tinggi meningkatkan resiko terjadinya penyakit jantung koroner atau stroke (aterosklerosis maupun penyakit arteri koroner) masih belum jelas. Kadar trigliserida diatas 250 mg/dl dianggab abnormal, tetapi kadar yang tinggi ini tidak selalu meningkatkan resiko terjadinya aterosklerosis maupun penyakit arteri koroner. Kadar trigliserida yang sangat tinggi (sampai 800 mg/dl) bias menyebabkan pankreatitis.

PENYEBAB DISLIPIDEMIA

Kadar lipoprotein terutama kolesterol LDL meningkat sejalan dengan bertambahnya usia. Dalam keadaan normal, pria memiliki kadar yang lebih tinggi, tetapi setelah menopause kadarnya pada wanita mulai meningkat.

Faktor lain yang menyebabkan tingginya kadar lemak tertentu (misalnya VLDL dan LDL) adalah :

-         Riwayat keluarga dengan hiperlipidemia

-         Obesitas

-         Diet kaya lemak

-         Kurang melakukan olah raga

-         Penggunaan alcohol

-         Merokok

-         Diabetes mellitus yang tidak terkontrol

-         Kelenjar tiroid yang kurang aktif

Sebagian besar kasus peningkatan trigliserida dan kolesterol total bersifat sementara dan tidak berat, dan terutama merupakan aikibat dari makan lemak.

Pembuangan lemak dari darah pada setiap orang mempunyai kecepatan yang berbeda.

Seseorang bias makan sejumlah besar lemak hewani dan tidak pernah memiliki kadar kolesterol total lebih dari 200 mg/dl, sedangkan yang lainnya menjalani diet rendah lemak yang ketat akan tetapi tidak pernah memiliki kadar kolesterol total dibawah 260 mg/dl. Perbedaan ini nampaknya bersifat genetic dan secara luas berhubungan dengan perbedaan kecepatan masuk dan keluarnya lipoprotein dari aliran darah.

Penyebab tingginya kadar kolesterol dan trigliserida :

-         Diet kaya lemak jenuh dan kolesterol

-         Diet kaya kalori

-         Penyalah gunaan alcohol akut

-         Diabetes tidak terkontrol dengan baik

-         Kelenjar hipofisa yang terlalu aktif

-         Obat-obatan tertentu :

  • Estrogen
  • Pil KB
  • Kortikosteroid
  • Diuretik tiazid (pada keadaan tertentu)

-         gagal ginjal

-         keturunan

GEJALA

Biasanya kadar lemak yang tinggi tidak menimbulkan gejala.

Kadang-kadang, jika kadarnya sangat tinggi, endapan lemak akan membentuk suatu pertumbuhan yang disebut Xantoma didalam tendon (urat daging) dan didalam kulit. Kadar trigliserida yang tinggi (sampai 800 mg/dl atau lebih) bias menyebabkan pembesaran hati dan limpa dan gejala-gejala dari paankreatitis (misalnya nyeri perut yang hebat).

DIAGNOSA

Dilakukan pemeriksaan darah untuk mengukur kadar kolesterol total. Untuk mengukur kadar kolesterol LDL, HDL dan trigliserida, sebaiknya penderita berpuasa dulu minimal 12 jam.

Kadar lemak darah

Kisaran yang ideal (mg/dl)
Kolesterol total 120-200
Kilomikron Negatif (setelah berpuasa 12 jam)
VLDL 1-30
LDL 60-160
HDL 35-65
Perbandingan LDL / HDL < 3,5
Trigliserida 10-16
    1. PENGOBATAN

Diet rendah kolesterol dan rendah lemak jenuh akan mengurangi kadar LDL. Olah raga bias membantu mengurangi kadar kolesterol LDL dan menambah kadar kolesterol HDL.

Biasanya pengobatan terbaik untuk orang-orang yang memiliki kadar kolesterol atau trigliserida tinggi adalah :

-         Menurunkan berat badan jika mereka mengalami kelebihan berat badan

-         Berhenti merokok

-         Mengurangi jumlah lemak dan kolesterol dalam makanannya

-         Menambah porsi olah raga

-         Mengkonsumsi obat penurun kadar lemak jika diperlukan

Jika kadar lemak darah sangat tinggi atau tidak memberikan respon terhadap tindakan diatas, maka dicari penyebabnya yang specific dengan melakukan pemeriksaan darah khusus sehingga bias diberikan pengobatan yang khusus.

Obat yang digunakan untuk menurunkan kadar lemak :

Penyerapan asam empedu :

-         Kolestiramin

-         Kolestipol

Penghambat sintese lipoprotein

-         Niasin

Penghambat koenzim α reduktase :

-         adrenalin, fluvastatin

-         lovastatin

-         pravastatin

-         simvastatin

Cara kerja menghambat pembentukan kolesterol, meningkatkan pembuangan LDL dari aliran darah.

Derivat asam fibrat :

-         klofibrat

-         gemfibrosil

Cara kerja belum diketahui mungkin meningkatkan pemecahan lemak

III. SINDROMA METABOLIK

Sindroma metabolic adalah sekumpulan kelainan metabolic yang merupakan resiko peningkatan terjadinya penyakit kardio-vaskuler, terdiri dari : obesitas sentral (obesitas abdominal), hipertensi, resistensi insulin, dislipidemia.

Penyebab Sindroma Metabolik

Yang berperan sebagai penyebab terjadinya sindroma metabolic meliputi factor genetic dan factor didapat :

-         Faktor genetic dari masing-masing komponen (hipertensi, obesitasi, dislipidemia dan resistensi insulin) maupun dari sindroma metabolic sendiri.

-         Faktor didapat / factor lingkungan :

v     Gaya hidup yang kurang bergerak

v     Merokok

v     Diet tinggi kalori dan tinggi lemak

v     Konsumsi alcohol

Factor-faktor tersebut merupakan cirri-ciri dari pola hidup yang “Westernized” (kebarat-baratan) yang dapat memicu timbulnya penyakit yang erat hubungannya dengan pola hidup (“ Life Style Related Disease”) yang terjadi di Indonesia sejak tahun 1980an dan sebagai salah satu contoh yang jelas adalah Sindroma Metabolik.

Komplikasi yang mengikuti Sindroma Metabolik

Kegemukan (obesitas), tekanan darah tinggi, diabetes mellitus dan dislipidemia secara sendiri-sendiri sudah sejak lama diketahui sebagai factor resiko terjadinya penyakit jantung koroner. Demikian pula adanya factor-faktor tersebut secara bersamaan pada seseorang telah sangat dikenal akan jauh meningkatkan kemungkinan terjadinya Penyakit jantung Koroner. Dengan demikian penderita dengan Sindroma Metabolik kemungkinan untuk mendapatkan / terkena penyakit jantung koroner dan penyakit kardiovaskuler lainnya akan meningkat.

Penatalaksanaan Sindroma Metabolik

Atas dasar pengalaman, terjadinya ‘Life Style Related Disease’ melalui urutan 4 stadium yaitu :

  1. Stadium Life Style Westernized (Nutrition and physical actifity)
  2. Stadium Obesitas (khususnya Obesitas Abdominal)
  3. Stadium Sindroma Metabolik
  4. Stadium Penyakit Kardiovaskuler (Jantung koroner, stroke)

Agar supaya Sindroma Metabolik tidak menjadi Penyakit Kardiovaskuler perlu dilakukan antisipasi pada Sindroma Metabolik, dengan penanganan (pengobatan) yang baik. Tentunya dengan tidak mengabaikan intervensi pada stadium 1 dan 2.

Faktor resiko yang memicu perkembangan Sindroma Metabolik adalah kelebihan berat badan dan obesitas, inaktifitas fisik dan diet aterogenik (tinggi kolesterol dan lemak jenuh). Semua petunjuk (guidelines) terkini penatalaksanaan komponen Sindroma Metabolik menekankan modifikasi gaya hidup ( Life style modification) yaitu penurunan berat badan dan meningkatkan aktivitas fisik sebagai pengganti pengobatan lini pertama (intervensi stadium 1,2 ).

Guidelines/ petunjuk penanganan obesitas menekankan pentingnya penurunan berat badan dengan cara mengubah perilaku untuk menurunkan asupan kalori dan meningkatkan aktifitas fisik. Diet yang efektif dan sehat untuk penurunan berat badan jangka panjang adalah menurunkan diet energi, terdiri dari pengurangan kalori derajat sedang yaitu 500-1000 kalori / hari.

Olah raga dan fitness secara teratur menunjukkan perbaikan beberapa factor resiko metabolic dan dikaitkan dengan penurunan resiko berkembangnya penyakit kronik. Inaktifitas fisik merupakan kontributor penting berkembangnya Sindroma metabolic. Guideline aktivitas fisik terkini merekomendasikan latihan sedang, teratur dan praktis. Rekomendasi latihan standar adalah aktifitas fisik intensitas sedang minimal 30 menit/hari.

Guideline diet untuk Sindroma Metabolik merekomendasikan komposisi diet secara umum dengan menganjurkan asupan rendah lemak jenuh dan kolesterol, mengurangi konsumsi gula sederhana dan meningkatkan asupan buah-buahan, sayur dan padi-padian (whole grain).

Faktor resiko utama yang tidak dapat diatasi dengan perubahan gaya hidup harus ditatalaksanakan dengan terapi specific untuk memperbaiki dislipidemia, resistensi insulin dan hipertensi.

RINGKASAN

v     Penyakit metabolic adalah penyakit yang diakibatkan oleh adanya kelainan metabolisme didalam tubuh ( misalnya metabolisme glukosa, lipid, dsb)

v     Timbulnya penyakit tersebut dipicu oleh karena kebiasaan hidup yang kurang sehat yaitu kebiasaan / pola hidup yang “westernized”/ “kebarat-baratan” yang mempunyai kecenderungan berkurangnya aktifitas fisik, perubahan pola makan cepat saji yang mempunyai kalori dan lemak tinggi

v     Oleh karena penyakit metabolic tersebut yang pada hakekatnya merupakan penyakit yang erat hubungannya dengan “Pola Hidup” (Life Style Related Disease) dan mempunyai dampak berbahaya yaitu berkembang menjadi penyakit kardiovaskuler (penyakit jantung koroner, stroke, dll). Maka perlu diantisipasi dengan usaha pencegahan dengan jalan : merubah pola hidup (life style), diet (perbaikan pola makan), baik secara individu maupun umum dimasyarakat antara lain dengan meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang penyakit-penyakit tersebut  dengan intensifikasi Komunikasi Informasi dan Edukasi (KIE).

About these ads